BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Permintaan terhadap benih kelapa sawit Pusat Penelitian Kelapa Sawit PT Riset Perkebunan Nusantara selama semester I tahun ini naik 1% seiring membaiknya harga minyak sawit mentah (CPO) tahun ini.
"Perusahaan merealisasikan penjualan 8,8 juta butir pada paruh pertama tahun ini. Meskipun nyaris stagnan jika dibandingkan dengan realisasi periode sama tahun lalu, aktivitas penanaman mulai dilakukan pekebun dan perusahaan sawit karena tergerak oleh harga CPO yang lebih tinggi ketimbang tahun lalu," kata Direktur PPKS, Hasril Hasan Siregar, di Jakarta, Kamis (20/7/2017).
Harga rata-rata CPO sepanjang Januari hingga Mei tahun ini mencapai US$720,1 per ton, lebih tinggi dari rata-rata tahun lalu sebesar US$700 per ton.
"Animo menanam sudah mulai pulih dan tekanan moratorium sudah tidak sekuat 2016," papar Hasril.
Pada tahun lalu, penjualan benih PPKS anjlok hampir 20% menjadi sekitar 20 juta butir setelah Presiden Joko Widodo mengeluarkan pernyataan tentang rencana moratorium perluasan lahan sawit, ditambah lagi dengan dampak El Nino.
Meskipun penjualan terkoreksi, PPKS tahun lalu tetap bertahan memimpin pasar dengan pangsa (market share) 30% karena produsen benih swasta mengalami penurunan permintaan pada saat yang sama.
Dalam kondisi ideal, produsen benih sawit dengan merek DxP itu telah menghasilkan benih dengan produktivitas tandan buah segar (TBS) 32 ton hingga 36 ton per hektare per tahun dengan rendemen 6 ton sampai dengan 8 ton CPO per ha per tahun.
PPKS menargetkan mampu memproduksi benih dengan potensi produktivitas 35,3 ton TBS per ha per tahun dengan yield 10 ton CPO per ha per tahun. (NEDELYA RAMADHANI/m)








