BORNEONEWS, Sampit - Tampaknya hingga saat ini peningkatan kesejahteraan petani masih sulit tercapai. Pasalnya masih banyak gabah petani di Kecamatan Teluk Sampit, Kotawaringin Timur (Kotim) yang belum terserap. Akibatnya, kini banyak tengkulak yang memanfaatkan kondisi tersebut dengan membeli gabah yang harganya murah, dan bahkan cenderung di bawah biaya produksi.

Menurut Ketua Pemuda Tani Kotim Rasyid, saat ini setidaknya ada 30 ribu ton gabah petani di wilayah Selatan yang belum terserap. Di sisi lain mereka butuh modal selain untuk kebutuhan keluarga juga keberlangsung biaya bercocok tanam.

Kondisi ini sehingga dimanfaatkan tengkulak dengan membeli gabah namun harganya murah.

“Kami berusaha membeli dengan harga yang pantas, dan memberikan keuntungan bagi petani. Namun karena terkendala modal, hanya sebagian kecil saja yang bisa terserap,” ujar Rasyid, Kamis (27/7/2017).

Saat ini, imbuh Rasyid, pihaknya membeli gabah kering giling dengan harga Rp4.900 per kilogram. Namun dengan stok gabah yang banyak dan dengan modal terbatas, sehingga pihaknya hanya mampu menyerap sekitar 10 ton saja untuk diproses menjadi beras dengan merk Jelawat.

Kondisi tersebut, terangnya, banyak dimanfaatkan tengkulak dari luar Kotim seperti dari Kalimantan Selatan dan Palangka Raya. Oleh terngkulak gabah dibeli dengan harga murah, yakni Rp3.500-Rp4.000 per kg.

“Petani seperti di Desa Lempuyang tidak punya pilihan, karena mereka juga perlu biaya untuk kebutuhan sehari-hari. Mereka sulit menahan gabah yang mereka stok terlalu lama sampai harganya bagus. Sehingga terpaksa menjual ke tengkulak,” ungkap Rasyid.

Biasanya, terangnya, tengkulak datang pada saat musim panen tiba. Dengan modal besar, para tengkulak itu  membeli gabah dengan harga yang sangat murah.

Sebelumnya Bulog juga menawarkan membeli gabah petani di daerah tersebut, namun harga yang ditawarkan juga belum sesuai dengan biaya produksi. (MUHAMMAD HAMIM/B-5)