BORNEONEWS, Palangka Raya - Kebakaran sekolah di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, sepanjang Juli 2017, dinilai sebagai teror sosial yang bisa menimbulkan pengalaman traumatik. Insiden itu menimpa delapan Sekolah Dasar Negeri (SDN), berturut-turut dalam jangka waktu yang pendek. Kejadian tersebut sangat tidak lazim, jika disebutkan penyebabnya korsleting listrik. 


"Yang pertama, ini menjadi catatan aparat pemerintah dan Kepolisian. Karena dengan kejadian berturut-turut dalam waktu yang pendek mengindikasikan adanya teror sosial. Teror sosial itu,  biasanya dilakukan melalui aktivitas dan dampaknya yang tidak wajar," kata Wakil Dekan III FISIP Universitas Palangka Raya, Jhon Retei Alfri Sandi kepada Palangka Post, di Palangka Raya, Senin (31/7/2017).


Jhon menjelaskan, kejadian luar biasa di Palangka Raya ini, harus segera ditangani. Sehingga yang menjadi tantangan ialah,  bagaimana cara mengungkap ini?. Apakah ini termasuk teror, atau murni faktor alam dan lingkungan. Kalau dipikir secara logika, jika bercermin dari kejadian yang berturut-turut ini,  terbakar akibat korsleting listrik, kata pengamat sosial politik itu, kemungkinan besar tidak mungkin terjadi. 


Menurut Jhon, kebakaran, atau pembakaran sekolah itu, menjadi catatan bersama, terutama Aparat Perintahan dan Keamanan. Kalau kita lihat, urai dia, kejadian ini tidak lazim,  karena belum pernah terjadi sebelumnya. Mungkin teror ini dampaknya tidak luas, tetapi jika terus melebar dan isu-isu berkembang ini disebut teror sosial. 


"Dampaknya, yang pertama bagi guru-guru,  orang tua,  bahkan murid-murid. Secara psikologis kejadian yang kebetulan dengan tidak kebetulan itu beda.  Dalam hal ini jika itu dibakar atau teror sosial itu tadi akan menimbulkan traumatik sosial," jelasnya. 


Sementara itu,  Kapolda Kalteng Brigjen Anang Revandoko melalui Kabid Humas Polda Kalteng AKBP Pambudi Rahayu mengungkapkan,  bercermin dari kejadian kebakaran, pihaknya meningkatkan pengamanan menjadi siaga satu. Pihaknya telah menempatkan anggota gabungan antarfungsi di berbagai lokasi yang dianggap rawan. Tanpa terkecuali di TKP sekolah yang telah terbakar. 


"Kita telah meningkatkan kesiagaan pengamanan. Kita tempatkan anggota di titik-titik tertentu, secara terbuka maupun tertutup (mengenakan pakaian preman). Ini salah satu cara kita untuk menjadikan situasi Kalteng, khususnya Palangka Raya tetap kondusif, " ungkap Pambudi,  di ruang kerjanya, kemarin.

 

Pambudi menuturkan, pihaknya masih mengembangkan dan menyelidiki kasus kebakaran ini. Tentunya ini memerlukan waktu guna mengungkap penyebab dan jika terbukti disengaja apa motifnya?. 


"Tolong beri waktu kepada kami Kepolisian,  untuk mengungkap kasus ini. Kami masih membutuhkan informasi, artinya warga saya harapkan jika yang mengetahui awal kejadian kebakaran tersebut, tolong sampaikan kepada kami. Intinya warga masyarakat harus bersabar dan tetap kondusif, " tuturnya. (BELLA RHOMADANI/PPOST/N).