BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Kementerian Perdagangan telah melakukan misi dagang ke Afrika Selatan dan Nigeria serta mengajukan proposal Persetujuan Prefensi Perdagangan (Preferential Trade Agreement/PTA) kepada Komunitas Ekonomi Negara-negara Afrika Barat (Ecowas).

"PTA sangat penting untuk meningkatkan hubungan perdagangan dan juga investasi ke Afrika Barat. Kami sudah mengajukan PTA dengan Ecowas dan direspons baik," kata Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita di Jakarta, Selasa (1/8).

Dalam PTA ini, pemerintah juga meminta penyesuaian tarif bea masuk (BM) sejumlah produk. Salah satu komoditas yang dikenakan tarif BM tinggi adalah minyak sawit mentah (CPO), sebesar 35% di Nigeria.

Ecowas memiliki 15 anggota, yaitu Nigeria, Benin, Burkina Faso, Tanjung Verde, Gambia, Ghana, Guinea, Guinea Bissau, Pantai Gading, Liberia, Mali, Niger, Senegal, Sierra Leone dan Togo. Dia menegaskan, produk-produk Indonesia sangat dikenal di Nigeria dan yang paling populer adalah Indomie.

Apalagi, Grup Indofood sudah mempunyai pabrik di Nigeria dan terus memproduksi dengan volume cukup tinggi. Kemendag tetap mendorong produk lokal, khususnya produk UKM agar bisa masuk ke Nigeria, karena pasarnya besar.

"Jumlah penduduk Nigeria mencapai 180 juta orang dan sedang berkembang pesat, serta perekonomian stabil. Nigeria itu seperti Indonesia pada 1980-an dan banyak perkembangan, saya dorong agar produk lokal bisa tembus Nigeria," papar Enggartiasto.

Enggartiasto menambahkan, tujuan misi dagang ke Nigeria juga dijadikan sebagai langkah awal untuk membuka pasar baru ekspor. Sebab selama ini, pasar ekspor Indonesia paling utama masih Tiongkok dan Asean, dan belum menembus Afrika. (NEDELYA RAMADHANI/m)