BORNEONEWS, Sampit - Larangan ekspor rotan mentah ke luar negeri masih menjadi permasalahan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), terutama bagi petani rotan. Dampaknya, banyak petani yang dulunya memiliki lahan yang ditanami rotan beralih ke kelapa sawit dan juga karet. Hal itu dilakukan agar petani tetap bisa memenuhi biaya hidup mereka.

"Saat ini banyak petani rotan yang berpindah ke perkebunan kelapa sawit dan karet. Hal itu dikarenakan anjloknya harga rotan," ujar Wakil Bupati Kotim Taufiq Mukri, Kamis (10/8/2017).

Saat ini pertanian rotan di Kotim menurun drastis, yakni hanya tersisa 40%. Sedangkan 60% sisanya sudah beralih ke komoditi lain. Hal itu dilakukan agar mereka tetap bisa memenuhi kebutuhan hidupnya.

Pemkab bersama para pengusaha rotan pun masih mencari solusi terkait persoalan itu. Agar harga rotan kembali normal seperti semula. Sehingga petani tidak lagi menerit dan mencari pekerjaan lain selain rotan.

"Tentu harus ada solusi. Dengan itulah kami duduk bersama untuk menyamakan persepsi dan mencari solusi agar bisa diperhatikan pemerintah pusat," terang Taufiq.

Di Kotim, per bulannya petani bisa panen hingga 500 ton rotan. Namun yang bisa terserap hanya sekitar 30%nya saja. Sisanya tidak tahu dijual kemana. (MUHAMMAD HAMIM/B-11)