BORNEONEWS - Penyalahgunaan narkoba di kalangan generasi muda di Indonesia kian mengkhawatirkan. Kondisi ini dapatmembahayakan keberlangsungan hidup bangsa di kemudian hari.
Sasaran dari penyebaran narkoba adalah kaum muda atau remaja. Bila dirata-rata, usia sasaran narkoba adalah pelajar, yang berkisar 13-25 tahun. Narkoba bila disalahgunakan akan sangat berbahaya bagi kesehatan pemakainya.
Di Indonesia, perkembangan pecandu narkoba semakin pesat, terutama di kalangan generasi muda atau pada usia produktif. Pada awalnya, pelajar yang mengonsumsi narkoba biasanya diawali dengan perkenalannya dengan rokok yang dianggap wajar.
Dari kebiasaan itulah pergaulan terus meningkat, apalagi ketika pelajar tersebut bergabung ke dalam lingkungan orang-orang yang sudah menjadi pencandu narkoba. Awalnya mencoba, lalu mengalami ketergantungan.
Karena semakin pesat perkembangannya, maka Indonesia menjadi salah satu target penjualan narkoba dari luar negeri, terutama Tiongkok. Beberapa waktu lalu atau tepatnya 13 Juli 2017, aparat kepolisian menggagalkan penyelundupan narkoba jenis sabu seberat satu ton di Dermaga Hotel Mandalika, Anyer, Kabupaten Serang, Banten.
Penggerebekan oleh tim gabungan Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya dan Polresta Depok itu dilakukan setelah mendapat informasi dari Kepolisian Taiwan bahwa akan ada pengiriman narkoba jenis sabu dari Tiongkok ke wilayah Indonesia.
Setelah mendapat informasi tersebut, polisi melakukan penyelidikan selama dua bulan sejak Juni 2017. Polisi lalu bergerak setelah mengetahui para tersangka yang membawa barang terlarang tersebut sedang berada di tepi pantai dekat Hotel Mandalika Anyer.
Dari penangkapan itu, polisi menembak satu tersangka bernama Lin Ming Hui karena berusaha melawan petugas. Dia merupakan bos sindikat penyelundup sabu dari Taiwan ke Indonesia. Sedangkan dua orang lainnya yang juga warga negara Taiwan berhasil dibekuk, yakni Chen Wei Cyuan dan Liao Guan Yu.
Seorang anggota komplotan, Hsu Yung Li, berhasil melarikan diri dan masih dalam pengejaran petugas. Para pelaku dan barang bukti lalu dibawa ke Polda Metro Jaya untuk pemeriksaan lebih lanjut. Barang bukti yang diamankan yakni 27 kotak berisi sabu yang disimpan di mobil Toyota Innova warna gold, 24 kotak sabu di Toyota Innova warna hitam dan 51 kotak lainnya. Estimasi sabu yang diamankan seberat 1.000 kg atau 1 ton atau dengan nilai mencapai Rp1,5 triliun.
Atas keberhasilan polisi mengungkap penyelundupan narkoba dengan jumlah sangat besar tersebut maka nyawa dan mental anak-anak muda Indonesia secara tidak langsung untuk sementara dapat terselamatkan.
Apa jadinya jika narkoba tersebut lolos dari pantauan polisi. Barang haram tersebut akan beredar di masyarakat pengguna yang ditujukan khususnya kepada generasi muda kita yang notabene adalah penerus jalannya pemerintahan negara kita.
Oleh karena itu, upaya pencegahan terhadap penyebaran narkoba di kalangan pemuda atau pelajar dan mahasiswa sudah seyogianya menjadi tanggung jawab kita bersama. Semua pihak termasuk orang tua, guru, dan masyarakat harus turut berperan aktif dalam mewaspadai ancaman narkoba terhadap anak-anak kita.
Adapun upaya-upaya yang lebih kongkret yang dapat kita lakukan adalah semua elemen masyarakat harus bersinergi dengan stekholder yang ada agar setidaknya dapat meminimalisasi peredaran narkoba di negara kita.
Aparat keamanan juga hendaknya melakukan penyuluhan tentang bahaya narkoba atau dimungkinkan mengadakan razia mendadak secara rutin. Pendampingan dari orang tua terhadap pelajar/pemuda dan mahasiswa juga diperlukan dengan memberikan perhatian dan kasih sayang, serta memperhatikan pergaulan mereka.
Pihak sekolah harus pula melakukan pengawasan yang ketat terhadap gerak-gerik anak didiknya. Karena biasanya penyebaran atau transaksi narkoba sering terjadi di sekitar lingkungan masyarakat, sekolah, dan kampus.
Pendidikan moral dan keagamaan harus lebih ditekankan kepada pelajar, siswa, maupun di tingkat lingkungan dengan mengadakan kegiatan keagamaan yang lebih intens. Karena salah satu penyebab terjerumusnya anak ke dalam penyalahgunaan narkoba adalah kurangnya pendidikan moral dan keagamaan yang mereka serap.
Ending-nya, generasi kita tidak menjadi target peredaran narkoba dan harapan untuk melahirkan generasi yang cerdas dan tangguh di masa yang akan datang dapat terealisasi dengan baik untuk kemajuan bangsa Indonesia. (RO/B-3)
Penulis: Sultan Pasya, pemerhati masalah sosial dan narkoba








