BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Indonesia dan Malaysia telah sepakat untuk melakukan berbagai langkah koordinasi dalam upaya membalas hambatan perdagangan dan kampanye hitam atas minyak sawit oleh pihak Barat.

Salah satu langkah untuk meredam kampanye hitam atas produk sawit itu adalah mengekspos hasil dari berbagai penelitian atas minyak sawit, terutama mengenai pemakaian komoditas tersebut yang berdampak positif.

Xinhua.net dalam laporannya, Senin (14/8), menyebutkan bahwa komitmen antara kedua negara serumpun itu terangkum dalam pertemuan antara Presiden Joko Widodo, yang didampingi Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, dengan Menteri Luar Negeri Malaysia Anifah Aman di kantor kepresidenan.

Selain merespons kampanye negatif terhadap produk berbasis sawit, Menlu Retno menegaskan bahwa langkah bersama Indonesia-Malaysia juga ditujukan untuk menaikkan daya tawar terkait isu sawit dan juga untuk mempromosikan produksi minyak sawit berkelanjutan.

Adapun langkah balasan bersama itu akan dilakukan melalui Council of Palm Oil Producer Countries (CPOPC), yaitu organisasi yang dibentuk oleh kedua negara, kata Retno.

"Indonesia telah menyiapkan banyak hasil riset guna menangkal kampanye hitam. Jika kami ikut bergabung, maka upaya itu akan lebih efektif," ujar Anifah, seraya menambahkan Malaysia juga telah menyiapkan bahan yang sama yang akan disatukan dengan yang disapkan Indonesia dalam waktu dekat.

Pada April, melalui platform CPOPC, Indonesia dan Malaysia telah mengungkapkan protes mereka terhadap disahkannya resolusi sawit oleh Parlemen Eropa, yang akan membatasi ekspor minyak sawit ke Benua Biru. (NEDELYA RAMADHANI/m)