BORNEONEWS, Nanga Bulik - Persoalan radikalisme dan konflik sosial dinilai sangat membahayakan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), jika terus dibiarkan. Keduanya bahkan diyakini akan menjadi pemicu disintegrasi bangsa.

Menyikapi hal itu, Polres Lamandau terus berupa melakukan langkah-langkah pencegahan. Selain dengan sosialisasi secara langsung di tengah-tengah masyarakat, polres juga melakukan pencegahan dengan merangkul berbagai lintas sektoral untuk duduk bersama dan berdiskusi. Hal tersebut seperti yang berlangsung pada gelaran Focus Group Discussion (FGD) yang berlangsung di Joglo Polres, Senin (14/8/2017).

Dalam kegiatan itu hadir para pembicara dan sejumlah tamu undangan dari perwakilan berbagai lintas sektoral, di antaranya dari Kementerian Agama (Kemenag), FKUB, Badan Kesatauan Bangsa dan Politik, MUI, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat hingga Tokoh Pemuda.

Dalam paparannya, Kapolres Lamandau AKBP Andika Kelana Wiratama, menjabarkan tentang pentingnya deradikalisme dan penanganan konflik sosial di tengah masyaarakat dilakukan secara bersama-sama, berkelanjutan dan tidak hanya mengandalkan satu pihak terkait saja.

Menurutnya juga, radikalisme dan konflik sosial yang terus dibiarkan tumbuh berkembang, lambat laun menggerogoti rasa persatuan dan kesatuan di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk.

"Deradikalisasi dan penanganan konflik sosial bukan hanya tugas polisi, bukan hanya tugas TNI, tapi ini merupakan tugas kita bersama sebagai anak bangsa. Semua elemen harus bersatu dan bergerak bersama dengan pola dan perannya masing-masing," katanya.

Dalam gelaran itu, Kapolres juga mengajak semua pihak untuk turut andil menyosialisasikan Peraturan Presiden Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 2 Tahun 2017 tentang Ormas. Menurutnya, Perppu Ormas tersebut menjadi salah satu alat pemerintah untuk mengamankan kedaulatan NKRI dari kelompok maupun rongrongan yang kerap menyerukan faham-faham radikal dan anti pancasila.

Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama yang diwakili Kasi Binmas Islam, H Subehan, juga menuturkan tentang pentingnya deradikalisasi di tengah masyarakat. Tak hanya itu, pencegahan dini dinilainya adalah salah satu cara yang paling efektif.

"Biasanya, konflik sosial terjadi karena adanya pemicu, salah satunya karena paham radikal serta sikap intoleran yang kian tumbuh, ini biasanya terjadi akibat ketidakmampuan seseorang atau kelompok dalam menyikapi perbedaan, padahal sejatinya perbedaan itu adalah rahmat," jelas dia.

Selain itu, H Subehan juga bicara tentang pentingnya peran keluarga dalam melindungi anggota keluarganya dari hal-hal negatif yang datang di berbagai ruang, baik melalui ruang dunia nyata maupun dunia maya, dan semacamnya. (HENDI NURFALAH/B-2)