BORNEONEWS, Sampit - Sejak Januari hingga Agustus 2017 ini, laporan terkait gangguan satwa liar yang masuk ke pemukiman warga di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengalami penurunan. Hal tersebut dikarenakan berkurangnya kebakaran hutan dan laham yang dapat merusak habitat satwa liar.


"Maraknya kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kerap menimbulkan munculnya gangguan satwa liar seperti orang utan dan beruang madu. Dimana satwa tersebut biasanya masuk kepemukiman warga. Sebab rusaknya habitat satwa membuatnya berusaha untuk mencari makan di tempat lain," ujar Komandan Pos Jaga Sampit Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Muriansyah kepada Borneonews, Rabu (16/8/2017).


Selama ini, lanjut dia, hampir tiap tahun ada saja satwa dilindungi tersesat dan masuk ke pemukimanan warga. Bahkan tidak jarang hingga melakukan pengerusakan kebun guna mencari makanan. Sementara, tahun ini karhutla di Kotim tidak separah tahun lalu, lantaran kemarau basah yang cukup pendek, membuat habitat satwa pun ikut terlindungi. Sehingga sedikit pula satwa liar keluar dari habitatnya.


Dari data BKSDA sendiri, kata dia, sejak Januari lalu hingga Agustus ini, hanya terdapat delapan laporan terkait keberadaan satwa liar seperti orang utan dan beruang madu yang terlihat di pemukiman warga. Jumlah itu menurun dari tahun lalu.


"Namun diduga satwa-satwa itu hanya sekedar melintas untuk mencari makan. Karena saat dilakukan observasi, tidak ditemukan adanya tanda-tanda hewan dilindungi itu menetap dilokasi tersebut," imbuh dia.


Menurut Muriansyah, untuk mencegah terjadinya karhutla yang dapat merusak habitat satwa liar. BKSDA Pos Sampit pun mendirikan dua posko dan patroli terpadu di Kotim. Yakni di Desa Eka Bahurui, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang dan Kelurahan Baamang Barat, Kecamatan Baamang. (MUHAMMAD HAMIM/B-8)