BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Fotorgafer profesional dan amatir hingga fotografer handphone, sebenarnya merupakan penyampai informasi yang efektif untuk mempromosikan sebuah event di suatu daerah. Tetapi ada sedikit kritik membangun yang disampaikan mereka agar sebuah event bisa ditingkatkan lagi kualitasnya.
Menurut para fotografer, terkadang saat bermaksud mengambil foto seorang penampil berbusana unik dalam sebuah karnaval dengan angle tertentu, seringkali mereka terganggu oleh posisi berjalan rekan satu rombongan penampil yang menggunakan busana yang biasa-biasa saja.
"Contohnya saat beberapa fotografer bermaksud mengambil foto peserta karnaval yang busananya sengaja dirancang glamor, khusus untuk karnaval ini. Namun beberapa rekannya yang menggunakan baju biasa seakan tidak peduli tetap berjalan di samping penampil tersebut. Bahkan beberapa kali kami minta mereka untuk sedikit menjauh dari si penampil agar kostum unik si penampil bisa dipotret dengan bagus," ujar Heri salah seorang fotografer yang berada di arena Karnaval Marunting Batu Aji Jalan Pangeran Antasari Pangkalan Bun Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) Sabtu (19/8/2017).
Andi, fotografer lainnya mengatakan sama seperti beberapa pawai dan karnaval yang digelar di Pangkalan Bun, banyaknya jumlah peserta yang ikut dengan busana yang alakadarnya membuat suasana agak sedikit garing.
"Padahal bila tampilan kostum dioptimalkan, atau para penampil yang diperbolehkan ikut dalam karnaval dibatasi hanya yang berbusana unik dan sengaja dirancang khusus saja, bukan tidak mungkin karnaval yang digelar di Kabupaten Kobar juga bakal dikenal orang seperti event Jember Fashion Festival yang gaungnya sudah mendunia," ujarnya.
Demikian juga, lanjut dia, para penonton yang memgambil foto wefie. Kadang seakan tidak peduli saat fotografer sudah terlihat bersiap membidik kamera.
"Padahal posisi kami sangat terlihat di pinggir, namun para penonton lain seakan tidak peduli . Kadang mereka langsung saja melintas dihadapan kami dan wefie dengan penampil di jalur shoot gambar. Padahal masih banyak posisi lain yang bisa digunakan mereka," ujarnya kesal.
Walau demikian, lanjutnya, para fotografer juga mengapresiasi adanya peserta yang sudah mampu menampilkan kostum unik yang dianggap layak karnaval serta fotogenik.
"Kami lihat, kadang kostumnya hanya terbuat dari koran dan plastik bekas. Namun kreativitas yang ditampilkan dalam kostum tersebut jadi unik dan menarik. Namun tetap banyaknya kuantitas peserta dengan kostum seadanya tetap saja membuat karnaval terkesan hanya adu banyak peserta berbaris saja," ujar Merry salah seorang fotografer yang sempat diajak Borneonews bercakap-cakap dilokasi kegiatan. (WAHYU KRIDA/B-8)








