BORNEONEWS, Jakarta - Pihak kepolisian harus bekerja ekstra keras untuk mengungkap kasus kebakaran sekolah, dan menangkap aktor intelektualnya sebelum kasusnya menjalar ke daerah-daerah. Dikhawatirkan isunya menjadi liar, dan mengganggu stabilitas politik, dan keamanan di Kalimantan Tengah. Sudah ada rumor, kebakaran Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Sampit, Sabtu (19/8/2017), mirip teror kebakaran 7 SDN di Palangka Raya, sepanjang Juli 2017.
"Dengan segala hormat, saya berharap polisi, Kapolri dan jajarannya segera menuntaskan teror kebakaran sekolah di Kalimantan Tengah. Jangan biarkan isunya liar, tak terkendali, dan menganggu proses pmbangunan di daerah," kata Hamdhani, anggota DPR RI dari daerah pemilihan Kalimantan Tengah kepada Borneonews yang menghubunginya di Jakarta, Senin (21/8/2017).
Seperti diketahui kebakaran hebat melanda MAN Sampit, Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, Sabtu (19/8/2017), pukul 23.45 WIB. Dengan gerak cepat petugas pemadam kebakaran, keganasan api dapat dipadamkan, Minggu (20/8/2017), pukul 01.45 WIB, sekitar dua jam setelah kejadian. Sejak itu, ada saja warga yang menduga terbakarnya MAN Sampit itu disengaja.
Pasalnya, sesuai informasi yang dikumpulkan Muhammad Hamim, wartawan Borneonews di Kotim, sebelum kejadian listrik sempat padam di lokasi. Tidak lama setelah tuas NCB dinaikkan untuk menyalakan lampu, percikan api muncul dari bagian atas, dan segera membakar enam lokal sekolah tersebut. Dari situ timbul kecurigaan ada kesengajaan dari terbakarnya MAN Sampit itu, mirip dengan kebakaran tujuh SD Negeri, dan satu SMK di Palangka Raya, Juli lalu.
Masuk akal kalau Wakil Gubernur Kalimantan Tengah Habib Said Ismail berharap kebakaran yang menimpa MAN Sampit tersebut, bukan kelanjutan teror yang terjadi di Palangka Raya. Ia menyatakan, mudah-mudahan kebakaran di MAN tersebut murni musibah, akibat konsleting listrik maupun hal lainnya yang bisa berakibat pada munculnya api.
"Mudah-mudahan kebakaran di MAN tersebut bukan sambungan teror di Palangka Raya. Saya ikut berduka dengan kejadian tersebut, dan mudah-mudahan tidak terlalu banyak mengganggu aktivitas belajar mengajar di sekolah tersebut," harap Habib Said saat membuka kegiatan Pelindo III di Pelabuhan Sampit, Kotim, Minggu (20/8/2017).
Masih didalami
Sejauh ini, kebakaran yang menghanguskan enam ruangan pada satu-satunya MAN di Kotim itu, masih dalam penyelidikan aparat kepolisian. Kapolres Kotim AKBP Muchtar Supiandi Siregar mengatakan, penyebab terjadinya musibah kebakaran tersebut masih didalami. Ia berjanji segera memberikan keterangan lanjutan, begitu ada perkembangan. Termasuk untuk mengetahui asal muasal api yang menghanguskan MAN Sampit itu.
"Masih kami dalami kejadian tersebut, belum diketahui penyebabnya, juga apinya berasal dari mana," ujar Muchtar saat memantau lokasi kebakaran tersebut.
Muchtar mengatakan, dari keterangan saksi, api muncul setelah pihak penjaga sekolah menghidupkan meteran listrik. Karena sesaat sebelumnya listrik jegleg. Setelah menghidupkan meteran tersebutlah asap muncul di atas atap ruang Tata Usaha yang menyatu dengan ruang kepala sekolah. Tidak berapa lama setelah atap berasap, api muncul dan dengan cepat membakar bangunan beton yang beratap sirap tersebut.
"Itu kami dapat dari keterangan penjaga sekolah. Namun yang pasti kami belum bisa menduga bahwa kebakaran akibat adanya korsleting listrik, semuanya masih kami dalami," kata Kapolres Kotim AKBP Muchtar Supiandi Siregar.
Apapun penyebabnya, Hamdhani berkeyakinan aparat kepolisian pasti bisa mengungkap kasus tersebut. Menurut anggota Komisi IV DPR RI itu, polisi memiliki sumberdaya yang mumpuni untuk menangani kasus teror, apalagi hanya untuk membongkar, dan menangkap aktor intelektual teror pembakaran sekolah.
"Pergerakan pelaku teror saja polisi kita bisa menanganinya dengan baik, apalagi cuma teror pembakar sekolah di daerah, di Kalteng," kata alumnus SMA 1 Pangkalan Bun itu.
Selain itu, Hamdhani mengimbau aparat keamanan, pihak pemerintah daerah, dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Aparat keamanan kata dia, perlu menjaga kamtibmas dengan terus menggiatkan patroli ke sekolah-sekolah. Pemda dan segala perangkatnya, juga harus mengerahkan aparatnya menjaga lingkungan, termasuk sekolah. "Masyarakat perlu menggiatkan siskamling." (Nazir Amin/B-2).








