BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Dampak dari semakin panasnya berbagai wilayah dan salah satunya adalah Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) juga diperlihatkan oleh adanya penurunan jumlah curah hujan bulanan di wilayah ini. Trend menurun terlihat pada kurun waktu 1980-2015.

Menurut Prakirawan Cuaca Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Iskandar Pangkalan Bun Ria Rosanti, walaupun jumlah curah hujan bulanan menunjukkan penurunan, intensitas pertumbuhan awan konvektif akibat pemanasan wilayah daratan semakin meningkat.

"Hal ini akan berdampak pada sering terjadinya hujan lebat mendadak, badai Guntur, serta angin kencang di wilayah Kobar," jelasnya.

Menurutnya, peningkatan suhu udara secara terus menerus akan berakibat pada meningkatnya kejadian cuaca ekstrim serta terjadinya perubahan iklim di suatu wilayah.

Kerusakan alam serta meningkatnya gas emisi membuat kondisi bumi semakin memburuk. Informasi-informasi terkait adanya peningkatan suhu global maupun perubahan iklim seharusnya menjadi perhatian buat semua elemen masyarakat dan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah.

"Indonesia saat ini sedang berencana menurunkan gas emisi hingga 41 persen yang bekerja sama dengan dunia internasional. Selain itu pemerintah juga mengajak setiap masyarakat Indonesia, termasuk warga Kobar untuk ikut serta dalam mitigasi pengurangan emisi ini," jelasnya. (WAHYU KRIDA/B-2)