BORNEONEWS, Palangka Raya - Pada tahun ini, sistem penilaian ajang pemilihan Duta Bahasa tingkat Nasional berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.

Hal itu disampaikan Adytia Anugrah, anak muda asal Kabupaten Pulang Pisau, yang menjadi wakil Provinsi Kalimantan Tengah dalam pemilihan Duta Bahasa tingkat Nasional pada 15-19 Agustus 2017 di Jakarta.

Sarjana teknik lulusan Universitas Petra, Surabaya, itu mengatakan bahwa pada tahun-tahun sebelumnya persiapan laporan yang dibawa dari daerah ke tingkat nasional hanya berbentuk proposal kegiatan.

Sedangkan tahun ini, sambung pemuda yang mahir berbahasa Inggris dan Korea itu, laporan yang dibawa harus sudah berbentuk penjelasan kegiatan kebahasaan yang telah dilakukan.

"Kendala selama persiapan itu ialah masalah laporan kegiatan kebahasaan. Soalnya komunitas Duta Bahasa Kalteng ini tidak aktif. Jadi kami bingung mau membuat laporan apa karena Duta Bahasa yang sebelum kami tidak ada program kerja yang aktif," cerita Adytia kepada Borneonews, Rabu (23/8/2017).

Karenanya, lanjut Adytia, dirinya bersama Niti sebagai wakil dari Kalteng mengalami kesulitan dalam memenuhi tugas dari panitia nasional tersebut.

"Kami kesusahan menyusun laporan dan akhirnya ketika sampai di tingkat nasional kami memiliki hasil yang kurang untuk laporan kebahasaan. Padahal laporan kebahasaan punya porsi nilai yang tinggi, sekitar 40% dari total penilaian," tutur pemuda yang juga pernah menjadi Delagasi Indonesia dalam Pertukaran Pemuda Antar Negara (PPAN), Ship For Southeast Asian and Japanese Youth Program (SSEAYP) pada 2016. (TESTI PRISCILLA/B-3)