BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Ekspor minyak sawit Indonesia menjelang Hari Raya Idul Fitri 2017 justru berbeda dari kebiasaan.
Harga minyak sawit yang pada saat itu berkisar US$640,725 per metrik ton (MT) dengan harga rata-rata US$681,30 per MT, ternyata tidak mampu mendongkrak ekspor.
"Biasanya, menjelang Hari Raya Idul Fitri, ekspor minyak sawit Indonesia meningkat karena ditopang oleh kebiasaan konsumsi yang naik khususnya di negara mayoritas berpenduduk muslim," kata Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Fadhil Hasan, di Jakarta, Kamis (24/8/2017).
Tahun ini hal biasa itu tidak terjadi, menjelang Hari Raya Idul Fitri ekspor minyak sawit Indonesia justru tersungkur sebesar 18%, yakni dari 2,60 juta ton pada Mei 2017 menjadi 2,10 juta ton pada Juni 2017.
"Lesunya pasar minyak sawit global dipengaruhi oleh melimpahnya produksi minyak nabati lainnya, seperti minyak kedelai dan biji rapa (rapeseed). Melimpahnya produksi menekan harga kedelai dan rapeseed turun, sehingga minyak sawit yang bukan merupakan minyak nabati utama di Eropa, Amerika, dan Tiongkok bukan menjadi pilihan utama," papar Fadhil.
Untuk produksi, lanjut Fadhil, pada semester I 2017 telah mencapai 18,15 juta ton. Angka itu melonjak 18,60% dibandingkan produksi minyak sawit Indonesia pada periode yang sama 2016 sebesar 15,30 juta ton.
"Produksi semester I 2017 ini masih dipengaruhi oleh fenomena El Nino yang terjadi pada 2015-2016, sehingga produksi tidak maksimal," ujarnya.
Di sisi lain, untuk mendapatkan data lapangan yang lebih akurat GAPKI bekerja sama dengan asosiasi sawit di Tanah Air melakukan survei stok fisik minyak sawit.
Berdasarkan hasil survei yang diselenggarakan GAPKI tersebut, stok fisik minyak sawit Indonesia di tangki-tangki timbun perusahaan cukup banyak sehingga perlu diadakan penyesuaian data stok. Pada semester I 2017, stok minyak sawit Indonesia mencapai 2,33 juta ton setelah adanya penyesuaian sebesar 1,50 juta ton.
Sementara itu, produksi minyak sawit Indonesia pada Juni 2017 tercatat masih stagnan dan cenderung menurun. Produksi pada Juni 2017 terpantau hanya mencapai 3,33 juta ton, sedangkan produksi pada Mei 2017 tercatat sebanyak 3,33 juta ton. (NEDELYA RAMADHANI/m)








