BORNEONEWS, Palangka Raya – Salah satu kandidat Rektor Universitas Palangka Raya (UPR) menggunakan baju yang lain dari pada empat kandidat lainnya saat penyampaian visi dan misi calon Rektor di Aula Rahan, Rabu (23/8/2017) kemarin.

Dia merakyat kalau dalam bahasa pemimpin kepada masyarakatnya, tetapi di kampus, bolehlah disebut ‘memahasiswa’.

Ya, ia mengenakan jas warna kuning layaknya almamater yang dipakai mahasiswa, yang juga hadir dalam ruangan itu. Sementara calon lainnya, menggunakan setelan jas, bahkan menggunakan batik yang bermotif adat daerah setempat, di arena yang merupakan area pendidikan tinggi ini.

Lalu apa kata mahasiswa? “Dia sebenarnya sangat bagus secara konsep. Apalagi secara wawasan, karena tidak hanya belajar di dalam negeri. Tetapi beliau berguru ke dunia barat saat kuliah S2 di Inggris dan berguru ke dunia timur saat melanjutkan program doktor di Jepang,” kata seorang mantan pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UPR, saat ikut hadir menyaksikan dialog.

“Dia pas menakhodai kampus ini karena perlu sentuhan tangan dingin dan perlu komunikasi yang bagus dengan dunia luar agar banyak kemajuan kerjasama pengembangan kampus terbesar di Kalteng ini. Dia dikenal luas di luar negeri karena tulisannya, karena jurnal internasionalnya, yang lain mana. UPR minim publikasi ilmiah,” lanjutnya kepada Borneonews.co.id

Sayang, lanjut sang mahasiswa ini, harapannya pupus. Karena 33 anggota Senat tidak banyak yang tergiur memilihnya. Hanya satu suara yang mengarah ke profil profesor satu ini. Dialah Prof Sulmin Gumiri. Dia merakyat di mata mahasiswa, namun dipandang sebelah mata oleh Senat. (ROZIQIN/B-6)