BORNEONEWS, Sampit -Anggota DPRD Kotawaringin Timur, H Supriadi menyebutkan aset daerah yang merupakan lahan sport center terancam hilang. Salah satunya lahan milik pemerintah daerah yang dibebaskan dengan APBD Kotim itu berangsur berkurang.
Hal itu berkaitan dengan klaim sejumlah kelompok masyarakat sehingga sisanya jauh dari jumlah sebelumnya. Ini tentu menjadi tanda tanya lembaga DPRD.
Menurut Supriadi, informasinya lahan itu sedikit-sedikit dikuasai masyarakat, karena memang lahan itu selama ini seperti tak bertuan. Itu dikhawatirkan berdampak hukum di kemudian hari.
"Dari total luasan lahan sebelumnya sekitar 100 hektare kini diprediksi lahan itu hanya tersisa sekitar 25 hektare saja. Bahkan di sekitar kolam renang itu sudah ada yang mulai membangun perumahan," kata Supriadi, Jumat (1/9/2017).
Supriadi mempertanyakan, apakah itu masuk dalam kawasan lahan pemerintah atau tidak, Supriadi berjanji akan menelusuri melalui bagian aset DPKAD Kotim.
Beberapa waktu lalu Supriadi bersama anggota DPRD lainnya langsung meninjau lokasi sport center tersebut. Mereka menilai ada pembiaran dari pemerintah sehingga tidak melanjutkan pembangunannya sehingga mangkrak. Dari itu, tahun depan mereka mendesak proyek itu dilanjutkan. (NACO)
Hal itu berkaitan dengan klaim sejumlah kelompok masyarakat sehingga sisanya jauh dari jumlah sebelumnya. Ini tentu menjadi tanda tanya lembaga DPRD.
Menurut Supriadi, informasinya lahan itu sedikit-sedikit dikuasai masyarakat, karena memang lahan itu selama ini seperti tak bertuan. Itu dikhawatirkan berdampak hukum di kemudian hari.
"Dari total luasan lahan sebelumnya sekitar 100 hektare kini diprediksi lahan itu hanya tersisa sekitar 25 hektare saja. Bahkan di sekitar kolam renang itu sudah ada yang mulai membangun perumahan," kata Supriadi, Jumat (1/9/2017).
Supriadi mempertanyakan, apakah itu masuk dalam kawasan lahan pemerintah atau tidak, Supriadi berjanji akan menelusuri melalui bagian aset DPKAD Kotim.
Beberapa waktu lalu Supriadi bersama anggota DPRD lainnya langsung meninjau lokasi sport center tersebut. Mereka menilai ada pembiaran dari pemerintah sehingga tidak melanjutkan pembangunannya sehingga mangkrak. Dari itu, tahun depan mereka mendesak proyek itu dilanjutkan. (NACO)








