BORNEONEWS, Palangka Raya – Provinsi Kalimantan Tengah selama Agustus 2017 mengalami deflasi sebesar 0,32% dengan laju inflasi tahun berjalan 2,85% Hal ini membuat Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) bersikap dengan merapatkan penanganan, Selasa (5/9/2017) siang hingga sore.

Deflasi Kalteng 0,32% dipicu dua indikator yaitu Kota Palangka Raya yang mengalami inflasi 0,12% dan Kota Sampit deflasi 1,09%. Laju inflasi Provinsi Kalteng tahun ke tahun tercatat 3,98%.

“Pada Agustus, deflasi Kalteng didorong oleh deflasi kelomok komoditas administered priced yaitu angkatan udara) dan volatile foods yakni bawang merah,” ungkap Haris, pejabat BI Perwakilan Kalteng yang memimpin rapat di ruang Asisten Setda Provinsi.

Tarif angkutan udara memberikan andil deflasi -0,4%. Hal itu, menurut Haris, merupakan efek koreksi harga pascatingginya permintaan di Bulan Ramadan dan Idul Fithri. Selain itu, komoditas bawang merah dan kelompok volatile foods memberikan andil deflasi -0,12%.

“Namun demikian, komoditas daging ayam ras dan garam masih memberikan andil inflasi 0,13% dan 0,12%,” sebutnya.

Sementara itu, catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Kalteng, dua tertinggi komoditas yang menyebabkan inflasi di Kota Palangka Raya ialah garam (0,09%) dan daging ayam ras (0,08%). Sedangkan andil deflasi adalah bawang merah (-0,11%) dan batako (-0,05%).

Untuk Kota Sampit, tiga tertinggi komoditas penyebab inflasi yakni daging ayam ras (0,19%), semangka (0,07%), dan garam (0,06%). Sedangkan andil deflasi adalah angkutan udara (-1,01%), bawang merah (-0,23%), dan kacang panjang (-0,11%). (ROZIQIN/B-3)