BORNEONEWS, Palangka Raya - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Kalimantan Tengah terus menjadi perhatian sejumlah pihak. Pada awal September ini telah tercium bau asap yang menyengat di sejumlah daerah, terutama pada malam hari.

Pemprov Kalteng pun menetapkan status siaga karhutla. Pusat Komando (Posko) Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadaman Kebakaran (BPB-PK) juga digiatkan dan telah beroperasi sejak 1 Agustus 2017.

Situasi ini, sejalan dengan hasil studi yang menunjukkan bahwa puncak musim kebakaran lahan gambut di selatan Kalteng akan terjadi mulai September hingga Oktober. Data per 11 September 2017, terdeteksi tujuh titik panas di Kabupaten Pulang Pisau dan Kotawaringin Timur.

Dua peneliti asal Universitas Kyoto-Jepang, Prof Hiroshi Hayasaka dan Dr Daisuke Naito, menyarakan agar upaya penanggulangan karhutla memanfaatkan kemajuan teknologi. Saran itu disampaikan Prof Hiroshi saat berkunjung ke Posko BPBD di Jalan Tjilik Riwut, Km 3, Palangka Raya, Rabu (14/9/2017).

Lalu apa tanggapan Kepala BPBD-PK Kalteng Darliansjah?

Ia menuturkan, berdasarkan hasil rapat dengan Menkopolhukam, bakal diterapkan sistem aplikasi yang mampu mendeteksi kebakaran tanpa melalui satelit. Sistem itu untuk memudahkan skenario pemadaman dengan water bombing dan patroli darat.

“Akan ada sistem terapan yang mampu mendeteksi kebakaran yang tidak mampu dideteksi oleh satelit,” kata Darliansjah. (ROZIQIN/B-3)