BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Boleh dibilang Indonesia dengan Malaysia seperti musuh dalam selimut, terutama terkait pemasaran minyak kelapa sawit ke pasar global.

Meski kedua negara produsen minyak sawit terbesar dunia ini saling bekerjasama dalam menangkal kampanye negatif terhadap minyak sawit, terutama di Eropa dan Amerika, namun kedua negara serumpun ini juga bersaing dalam menjelajah pasar-pasar baru sebagai antisipasi melorotnya permintaan dari Uni Eropa dan Amerika.

Sejumlah analis, salah satunya Ivy Ng, regional head of plantations research di CIMB Investment Bank, seperti dikutip The Edge Markets, Indonesia lebih diuntungkan dalam upaya antisipasi penurunan permintaan dari Eropa dan Amerika dibandingkan Malaysia. Pasalnya, biaya produksi minyak sawit di Indonesia lebih rendah sekitar 10% hingga 15% dibandingkan dengan di Malaysia, sehingga harga jual produk dari Indonesia akan lebih bersaing.

Selain itu, Indonesia lebih gencar menjajakan minyak sawit mentah dan produk turunannya melalui mekanisme barter dengan produk andalan di negara pengimpor, seperti yang dilakukan untuk pembelian pesawat tempur jenis Sukhoi dengan Rusia. Indonesia juga mencari pasar-pasar baru di Afrika juga dengan cara barter dengan minyak mentah.

Tak hanya itu, Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Sahat Sinaga mengatakan beberapa produsen minyak sawit akan membuka sebuah pusat pemasaran dan riset di Rusia, yang bertujuan untuk mendongkrak ekspor dari 920.000 ton pada 2016 sebesar 4%-5% per tahun hingga 2023.

GAPKI juga berencana membuka fasilitas penyimpanan minyak sawit di Pakistan, yang mengimpor 1-2 juta ton minyak sawit dari Indonesia per tahun.

Bagaimana dengan Malaysia? Negeri ini melalui Malaysian Palm Oil Council (MPOC) akan meningkatkan upaya untuk melakukan penetrasi ke sejumlah pasar baru, seperti Myanmar, Filipina dan Afrika Barat. (NEDELYA RAMADHANI/m)