BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Kondisi cuaca yang sudah mulai stabil semester II tahun ini menjadi katalis pertumbuhan PT London Sumatra Plantation Tbk (LSIP).

Analis Samuel Sekuritas Sharlita Malik menuturkan membaiknya kondisi cuaca membuat produksi CPO kembali normal.

"Kami melihat di paruh kedua tahun ini, produksi tandan buah segar lebih tinggi secara yoy (naik 9%). Di sisi lain lonjakan permintaan CPO periode tersebut bisa terjadi seiring dengan perayaan Diwali pada Oktober besok," ujar Sharlita melalui riset edisi September.

Namun, perlu diwaspadai level inventori CPO yang sudah kembali normal membuat harga CPO berpeluang melandai di tahun depan.

"Kami menurunkan estimasi harga CPO pada 2018, menjadi MYR 2.750 per ton (tutun 2% dari estimasi sebelumnya) merespons level inventori yang kembali normal," sambungnya.

Dengan adanya perbaikan tersebut, Samuel memperkirakan laba bersih LSIP tumbuh 33% atau mencapai Rp790 miliar sampai akhir tahun ini. Hal ini merefleksikan ekspektasi peningkatan harga jual rata-rata CPO LSIP sebesar 18% yoy.

Selain sentimen dari harga CPO, ia melihat pemulihan produksi (menguat 11% yoy) serta volume penjualan LSIP yang meningkat 17% yoy sepanjang tahun ini, sejalan dengan meningkatnya permintaan Indofood Group.

Ia melanjutkan, fundamental LSIP tetap menarik didukung oleh fokus LSIP dengan pure upstream bisnis, neraca keuangan yang bersih dengan tidak ada utang, posisi kinerja keuangan yang mampu untuk mendukung ekspansi dan pertumbuhan di masa mendatang.

"Selain itu LSIP masih memiliki lahan yang dapat ditanami untuk mendukung rencana pertumbuhan organik, sehingga kami mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga Rp1.750," ujarnya.

Rekomendasi ini dengan menurunkan target harga merespons penurunan estimasi harga CPO di tahun depan seiring level inventori CPO global yang kembali normal. Adapun risiko investasi adalah kondisi cuaca yang kurang mendukung, fluktuasi MYR, dan harga CPO yang di bawah estimasi. (NEDELYA RAMADHANI/m)