BORNEONEWS, Kuala Kurun - Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Gunung Mas (Gumas) Kardinal menyampaikan, kabupaten ini menempati urutan ke-6 dengan persentase 32,6%, untuk Balita usia 0-59 bulan dengan kasus berbadan pendek dan sangat pendek (stunting).
Menurut Kardinal, faktor yang erat kaitannya dengan stunting antara lain, kurang gizi, kurang higinitas, pola rawat anak yang kurang pemberian makanan, kurangnya gizi ibu, dekatnya jarak kelahiran. Kemudian, kurangnya pemberian ASI eksklusif, perilaku BAB di ruang terbuka serta kurangnya ketersediaan pangan rumah tangga.
"Padahal dampak stunting meningkatnya resiko kesakitan dan infeksi, terhambatnya perkembangan, kurangnya pengetahuan/kognitif, minimnya prestasi belajar, pendeknya periode bersekolah dan lainnya," kata Kardinal saat membuka sosialisasi cegah stunting dan demo pengolahan pangan lokal sebagai sebagai salah satu upaya pencegahan stunting.
Kegiatan tersebut dilaksanakan di GPU Tampung Penyang, Selasa (3/10/2017).
Menurut dia, untuk mengatasi permasalahan tersebut diperlulan upaya-upaya dari sektor hulu. Antara lain dengan meningkatkan produksi pangan dan kebutuhan kalori. Kemudian, harga pangan yang tercapai oleh masyarakat hingga pengawasan keamanan pamgan yang memadai, serta kesadaran masyarakat tentang gizi seimbang dan sanitasi.
"Kebijakan mikro pertanian, serta meningkatkan pengetahuan dan perilaku tentang pentingnya gizi seimbang pada 1000 hari pertama kehidupan (HPK)," cetus Kardinal. (EPRA SENTOSA/B-5)








