BORNEONEWS, Palangka Raya – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) semain serius menfoskukan diri membedah persoalan ketimpangan ekonomi yang bermuara kesenjangan sosial dewasa ini. Ormas terbesar ini menggelar diskusi di tiga daerah salah satunya Kota Palangka Raya, dan notulensi atau catatan ini akan dibahas di arena puncak Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama 2017 pada November 2017 mendatang di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Ketua Panitia Nasional kegiatan Pra-Munas dan Konferensi Besar (Konbes), Robikin Emhas mengatakan, diharapkan dari tiga daerah lokasi Pra-Munas menghasilkan poin-poin penting yang dirangkum sebagai bahan Munas nanti. Rangkuman itu merupakan masukan dari keterwakilan tiga regional.
“Munas Alim Ulama 2017 didahului dengan serangkaian kegiatan Pra-Munas yang akan digelar di
tiga tempat yaitu di Palangka Raya, Kalimantan Tengah (Kalteng) yang merupakan pertama melaksanakan kegiatan. Dua sesi diskusi hari ini, kita menggali masukan dan inventarisasi masalah ini akan dibawa ke Lombok, tempat Munas 2017,” kata Robikin kepada Borneonews, Minggu (8/10/2017)
Lokasi Pra Munas selanjutnya, kata Robikin, adalah di Kota Manado, Sulawesi Utara (27 Oktober), dan Lampung (4 November). Munas dan Konbes NU 2017 di Mataram mengambil tema ‘Menguatkan Nilai-Nilai Kebangsaan Melalui Gerakan Deradikalisasi dan Penguatan Ekonomi Warga.”
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj mengungkapkan rasa mirisnya, karena kekayaan dimonopoli segelintir orang yang menguasai lahan. Saat ini, jumlahpetani yang tidak memiliki lahan makin bertambah padahal komposisi mata pencaharian petani adalah terbesar di Indonesia yang memang negara agraris.
Tidak cukup petani saja yang terdesak, para pedagang juga merasakan dampak dari liberalisasi perdagangan. Semakin miris karena paket kebijakan bantuan ekonomi berupa kredit luna juga tidak sampai ke masyarakat paling bawah yang sangat membutuhkan.
“Pedagang kecil kalah dengan pedagang ritel yang kian menjamur, disitu warga kecil, toko dan warung mereka tutup, guung tikar dengan gempuran ‘mart’. Yang petani, kian tak punya lahan prduktif dan hanya menjadi buruh tani. Lalu jadi apa rakyat ini kalau kesenjangan makin lebar. Penguatan ekonomi ini yang harus menjadi isu sentral, ummat harus kaya, harus disejahterakan” kata Kyai Said. (ROZIQIN/B-5)








