BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Meskipun tengah mengalami banyak tekanan, ekspor produk minyak sawit Indonesia tetap tumbuh 24% pada Agustus tahun ini.
"Jika pada bulan Juli 2017 ekspor Crude Palm Oil (CPO) dan turunannya sebesar 2,4 juta ton, naik menjadi 2,98 juta ton. Maka, pada Agustus kinerja ekspor CPO meningkat 24%," kata Sekretaris Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Togar Sitanggang, di Jakarta, Rabu (11/10/2017).
Ekspor ke Tiongkok tercatat memecah rekor tahun ini karena naik 169% dari Juli yakni dari 167.280 ton menjadi 449.200 ton pada Agustus 2017.
"Tiongkok meningkatkan pasokan minyak sawit untuk mengisi stok di dalam negeri," papar Togar.
Sedangkan Direktur Eksekutif Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI), Iskandar Andi Nuhung, menambahkan peningkatan ekspor ke Tiongkok dilakukan untuk kebutuhan biodiesel.
"Permintaan meningkat karena sawit ini multifungsi, tidak hanya untuk minyak goreng tapi digunakan untuk industri kosmetik, bioenergi, dan industri farmakologi. Sekarang ekonomi dunia juga tidak terganggu, sehingga tidak mempengaruhi permintaan minyak sawit," ujar Iskandar.
Selain Tiongkok, India akan meningkatkan impor CPO kendati sudah menerapkan Bea Masuk (BM) yang tinggi. Negara-negara Eropa yang doyan menyerang produk CPO, tetap membutuhkan CPO untuk konsumsi dalam negeri. (NEDELYA RAMADHANI/m)








