BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Aplikasi Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) pada rorak tertutup di tanah pasir memberikan pengaruh yang baik terhadap tingkat dekomposisi 20 minggu setelah aplikasi (MSA).

Demikian kesimpulan dari penelitian yang dilakukan Sulung Research Station PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS). Penelitian itu bertujuan mengetahui tingkat dekomposisi TKKS dengan metode rorak tertutup di dalam tanah pasir. Serta mengetahui pengaruh tebal penutupan rorak terhadap perkembangan kumbang Oryctes rhinoceros.

Rorak dalam penelitian ini berupa galian yang dibuat di sebelah pokok tanaman untuk menempatkan TKKS.

“Ketersediaan hara pada TKKS hasil dekomposisi dengan metode rorak tertutup memiliki peningkatan lebih baik dibandingkan dengan aplikasi satu lapis di permukaan tanah pasir dan pada rorak terbuka,” jelas Head of Research Sulung Research Station (SRS) Fizrul Indra Lubis, baru-baru ini.

Ia menjelaskan, aplikasi TKKS metode rorak yang ditutup dengan timbunan tanah pasir setebal 30 cm mampu menekan perkembangan larva kumbang O. rhinoceros selama 20 MSA lebih baik dibandingkan metode aplikasi TKKS lainnya.

Pada kesempatan yang sama Manager Agronomi Sulung Research Station Lujian Kurniawan juga menjelaskan “Seperti diketahui, hingga kini penambahan Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) sebagai sumber bahan organik menjadi solusi terbaik untuk merehabilitasi tanah pasir. Aplikasi satu lapis mulsa TKKS dengan dosis 200 kg/pohon per tahun dapat meningkatkan kandungan nutrisi sertameningkatkan aktivitas biologi di dalam tanah pasir.

Namun proses dekomposisi TKKS membutuhkan waktu lama sehingga berdampak pada kehilangan unsur hara dari TKKS akibat penguapan dan juga pencucian. Besarnya kehilangan hara pada TKKS dibandingkan dengan proses penyediaan bagi tanaman dibuktikan dengan tidak adanya pengaruh signifikan pada peningkatan hara nitrogen daun setelah aplikasi 200 kg per pohon.

Selain itu proses dekomposisi TKKS di lapangan juga berpotensi menyebabkan kumbang Oryctes rhinoceros dapat berkembang biak dan menjadi hama bagi tanaman kelapa sawit jika diaplikasi lebih dari satu lapis.

Sulung Research Station kemudian melakukan penelitian di tanah pasir (Ordo Spodosol).

Hasil pemantauan selama proses dekomposisi TKKS di semua perlakuan, rata-rata memiliki temperatur sekitar 30 derajat Celcius pada 20 minggu setelah aplikasi (20 MSA). Temperatur merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi laju dekomposisi bahan organik. Semakin tinggi temperatur menunjukkan konsumsi oksigen yang tinggi dan aktivitas mikroorganisme meningkat.

Hasil penelitian mengindikasikan bahwa penutupan rorak setebal 30 cm mampu menghambat perkembangbiakan kumbang O. rhinoceros pada tumpukan TKKS. Penutupan rorak yang berisikan TKKS pada prinsipnya sama dengan penutupan tumpukan bahan organik dalam proses pegomposan pada umumnya. Selain bertujuan mempercepat proses pematangan kompos dan meminimalisasi kehilangan nutrisi, penutupan juga dapat menghambat beberapa jenis serangga meletakkan telur dan berkembang biak.

Ingin mengetahui lebih lanjut proses penelitian ini berlangsung? Silakan berhubungan melalui email srs.ssms@citraborneo.co.id, atau nomor telepon 0532-21297 ext 5591. (m)