BORNEONEWS, Palangka Raya - Penetapan rekrutmen calon panitia pemilihan kecamatan (PPK) dan panitia pemungutan suara (PPS) yang dilakukan KPU Kota Palangka Raya menyisakan pertanyaan dan protes dari beberapa orang yang tidak lolos seleksi. Salah satunya, Junaidi.
"Mengherankan memang karena hasil peserta yang ditetapkan lulus tes PPK dan PPS itu persen masih dihiasi oleh wajah-wajah lama," kata Junaidi, Kamis (9/11/2017).
Dengan kenyataan itu, lanjut Junaidi, KPU menjadi terkesan tidak profesional dan tidak proporsional dalam menetapkan peserta yang lolos.
"Lihat saja yang dulunya pernah duduk di PPK atau PPS kembali diloloskan. Bahkan ada yang sudah dua periode berturut-turut juga lolos lagi, padahal kalau mengacu dengan ketentuan dalam KPU, kalau sudah dua periode tidak bisa lagi menduduki jabatan yang sama," bebernya.
Parahnya lagi, tambah Junaidi, ada peserta yang terhitung satu keluarga juga berhasil lolos secara bersamaan.
"Kalau seperti ini maka jelas ada sarat kepentingan. Apalagi hasil rekrutmen yang diumumkan tanpa ada transparansi nilai yang menjadi parameter setiap item penilaian. Bila sistem perekrutan PPK/PPS seperti ini, ya bisa saja yang kasihan para kandidat calon wali kota yang akan bertarung di pilwalkot 2018 mendatang. Saya mengungkapkan ini untuk mewakili banyaknya peserta yang kecewa dengan hasil rekrutmen PPK dan PPS oleh pihak KPU Kota Palangka Raya," tutupnya. (TESTI PRISCILLA/B-6)








