BORNEONEWS, Sampit - Persoalan banjir masih menghantui masyrakat di Kota Sampit. Bahkan langkah yang dilakukan selama ini dinilai belum maksimal. Berkaitan dengan itu, pemkab mengajukan penanganan banjir melalui program multiyears.

Berkaitan dengan banjir, anggota DPRD Kotim, Muhammad Shaleh dalam pertemuan antara Badan Anggaran (Banggar) dan Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) di DPRD Kotim, menyebutkan hujan satu jam saja sejumlah kawasan di kota Sampit ikut tergenang.

"Menyelesaikan masalah banjir ini ternyata tidak cukup hanya dengan membuka drainase dan melakukan pengerukan lalu selesai. Itu sudah terbukti Kota Sampit masih jadi genangan air hujan, drainase yang ada itu tidak mampu menampung debit air hujan," kata Shaleh, Rabu (15/11/2017).

Menurut Shaleh persoalan banjir ini harus diselesaikan dari hulu hingga hilirnya karena itu tidak bisa hanya membongkar drainase. "Bahkan, rencana untuk membongkar drainase di jalan protokol itu bukanlah solusi yang tepat," tegasnya.

Sementara, anggota lainnya, Hero Harapanno Mandou mengatakan, untuk mengatasi banjir perlu langkah pemkab membenahi saluran induk. "Harus ada upaya yang dilakukan, kondisi alam jangan dijadikan alasan," tegasnya.

Sementara itu pemkab mengusulkan penanganan banjir dalam kota perlu dilakukan secara besar-besaran. Pemkab mengajukan untuk diselesaikan melalui program tahun jamak (multiyears).

Jika itu dilakukan sekitar Rp90 miliar diperlukan dalam tiga tahun anggaran, sayangnya rencana itu kandas di DPRD Kotim. Banggar dominan menolak itu karena dianggap membebankan anggaran. Mereka lebih memilih hal itu dilakukan melalui program reguler saja. (NACO/B-11)