BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Produksi minyak sawit Indonesia diprediksi mencapai 38,3 juta ton pada 2018, naik dari 36,3 juta ton tahun ini seiring dengan mulai sirnanya dampak dari El Nino.
Estimasi itu diungkapkan analis industri sawit terkemuka Thomas Mielke di Nusa Dua, Bali, belum lama ini.
Bahkan, kata Mielke, dalam jangka panjang, produksi minyak sawit Indonesia dapat menembus angka 48 juta ton pada 2025. Sementara Malaysia, yang notabene produsen minyak sawit terbesar kedua setelah Indonesia, akan mencatat produksi sebesar 23,1 juta ton.
Menjelang tutup tahun, menurut dia, harga minyak sawit kemungkinan akan melemah, tapi tidak akan berada di bawah 2.650 ringgit ($626) per ton.
Untuk 2018, Mielke memprediksi harga minyak sawit akan menguat pada awal-awal tahun dan kemudian akan melemah seiring dengan meningkatnya produksi.
"Pada Januari hingga Maret 2018, produksi minyak nabati dunia akan rendah dan cadangan akan menurun, yang berimbas pada kenaikan harga," katanya.
"Tapi bila berasumsi cuaca normal, surplus produksi minyak sawit kemungkinan terjadi pada April hingga September 2018, yang memicu terjadinya tekanan harga secara terbatas." (NEDELYA RAMADHANI/m)








