BORNEONEWS, Muara Teweh - Banjir bandang yang terjadi di Kecamatan Teweh Timur, Kabupaten Barito Utara menelan korban jiwa, Jumat (17/11/2017). 

Korbannya bernama Barlin bin Rupa'i (66),  warga Jalan Kaka Bayo,  RT 02, Desa Benagin,  Kecamatan Teweh Timur.

 

Kapolsek Teweh Timur  Ipda Anies, Sabtu (18/11/2017) menerangkan sekitar pukul 09. 00 WIB korban pergi berjalan untuk melihat anaknya yang sedang main air. Saat itu korban memberitahukan kepada anaknya agar tidak bermain di air karena airnya deras.


Setelah itu,  korban berjalan ke arah Jalan Demang Pati Desa Benangin V. Selanjutnya sekitar pukul 15.30 WIB korban bertemu dengan Jahar (41) yang beralamat di Jalan Lutik RT 04, Desa Benangin V Kecamatan Teweh Timur. 


Setelah itu Jahar masuk ke rumah Samud (orang tua Jahar di jalan Demang Pati) kemudian sekitar satu jam berselang,  Jahar keluar lagi dan melihat  korban tidak ada lagi di tempat.

 

Sekitar pukul 19.00 WIB istri korban Barlian binti Johari (62) meminta bantuan kepada ketua RT untuk mencari korban.


"Kemudian ketua RT bersama masyarakat sekitarnya mencari korban namun tidak ketemu sampai pukul 19.30 WIB dan pukul19.30 WIB Adi bin Barlin (anak korban) datang ke Polsek Teweh Timur untuk melaporkan bahwa orangtuanya dari jam 09.00 s/d 19.30 WIB belum pulang ke rumah dan meminta bantuan pihak polsek," ujar Anies.

 

Setelah mendapat laporan dari warga tersebut kapolsek bersama dua anggotanya berangkat dengan menggunakan perahu/sampan kecil. 


Sekitar  pukul 20.00 WIB korban ditemukan di Jalan Demang Pati RT 01 di bawah pohon mangga di samping rumah milik Ismail. "Korban ditemukan dengan posisi terlungkup di dalam air dan sudah tidak bernyawa," jelasnya. 


Saat di temukan korban menggunakan baju kaos singlet warna putih dan celana pendek warna merah, "Setelah diperiksa oleh tim kesehatan Puskesmas Benangin tidak ditemukan adanya luka dan tindakan kekerasan," terangnya.


Dikatakannya, dengan kejadian tersebut yang mana pihak keluarga dengan ihklas menerima kematian korban dan pihak korban tidak mau divisum dan pihak keluarga menganggap murni musibah.


Kondisi pada saat korban sebelum meninggal mengidap penyakit jantung, kolestrol dan darah tinggi, sehingga pihak kelurga korban merasa bahwa korban meninggal bukan karna kekerasan.(RAMADHANI/B-6)