BORNEONEWS, Sukamara - Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Sukamara Irlan Kodriansyah melalui Kabid Peternakan Syamsir Hidayat mengatakan, sapi yang punya penyakit Brucellosis atau keguguran menular memiliki beberapa perbedaan dibanding ternak yang tidak terkena bakteri Brucellu Abortus Bang.
"Gejala ini tidak menyolok, sehingga tidak menimbulkan perubahan yang klinis pada sapi," ujar Syamsir Hidayat, Senin (27/11/2017).
Menurut Syamsir, untuk sapi jantan yang terkena Brucellosis bisa dilihat seperti skrotum bengkak, nafsu makan menurun, dan deman.
"Sedangkan sapi betina biasanya menyebabkan terjadinya keguguran saat bunting atau anaknya mati dengan berwarna biru kecoklatan dan apabila hidup pun sangat lemah serta tidak berkembang," jelas Syamsir.
Lanjutnya, untuk ambing dan alat kelamin terkadang bengkak, di mana hal ini disebabkan oleh bakteri Brucellu Abortus Bang.
"Penularan bakteri ini bisa disebabkan melalui kontak langsung, yakni pada saat terjadinya perkawinan dengan penjantan yang tampak sehat tetapi membawa penyakit," ujarnya.
Ditambahkannya, penyebaran bakteri Brucellu Abortus Bang juga bisa disebabkan oleh pakan dan air minum yang diludahi oleh sapi jantan yang terkena bakteri. (NORHASANAH/B-5)








