BORNEONEWS, Palangka Raya – Meski sudah jargon pembangunan desentralistik, namun nyatanya masih berlangsung sentralistik. Hal ini tidak mengurai permasalahan bangsa dari segi pembangunan ekonomi, sosial, dan budaya.

Penilaian ini datang dari Dahnil Anzar Simanjuntak, Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah. Maka menurutnya harus ada keberanian untuk memulai pemindahan centrum baru sebagai pusat peradaban. Praktisnya, harus mulai menetapkan pemindahan ibukota baru, bukan sekedar wacana.

"Harus diakui bahwa pembangunan kita masih sentralistik walau kita sudah desentralisasi. Nah, pemindahan ibukota adalah sebagai jalan baru untuk melakukan redistribusi centrum pertumbuhan ekonomi dan sosial," ujarnya di Palangka Raya, Senin (27/11/2017).

Rencana relokasi ibukota sudah pasti tidak bisa singkat, tapi memakan waktu lama bisa 10-30 tahun. Tapi menurut Dahnil melihat kondisi saat ini sudah saatnya harus dimulai.

Mulai dari kajiannya yaitu butuh waktu berapa tahun, butuh berapa anggaran, tahapan-tahapannya harus diputuskan dan ini menjadi PR bagi siapapun yang jadi presiden, bukan hanya selalu jadi wacana dan retorika.

"Jangan berhenti jadi retorika melulu, bayangkan mulai dari Bung Karno, Suharto, SBY, semuanya ngomomg pentingnya pemindahan ibukota tetapi gagal eksekusi. Maka era Jokowi ini harus ditagih sudah dimulai gak? Prosesnya kajiannya sudah sampai mana. Karena tidak mungkin 10 tahun tetapi bisa 30 tahun loh. Bisa jadi presiden ke berapa nantinya baru terealisasi,” tutupnya. (ROZIQIN/B-7)