BORNEONEWS, Palangka Raya – Kurangnya asupan makanan bergizi dan beragam ditengarai menjadi penyebab anak mengidap stunting atau gangguan pertumbuhan. Kepala Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kalimantan Tengah, Sunarti, mengaku heran jika ada anak kena stunting sedangkan sumber gizi di sekitarnya sangat banyak.
Penekanan itu disampaikan Sunarti saat Rapat Koordinasi Pangan se-Kalteng di Aula DKP, Jalan Willem AS, Kota Palangka Raya, Selasa (5/12/2017). Penekanan itu sekaligus menjawab permasalahan yang diungkapkan Kepala DKP Kabupaten Kapuas Suryadi.
“Justru saya balik bertanya kenapa bisa stunting terjadi di sana (Kapuas). Sedangkan di daerah sekitar masih banyak sumber makanan bergizi. Padahal juga daerahnya bertopografi yang tidak sulit. Ikan juga banyak tersedia,” katanya.
Akan berbeda halnya, lajut Sunarti, jika daerah itu Puruk Cahu, Kabupaten Murung Raya. Selain topografi dan medannya memang susah di tempuh, ketersediaan ikan laut juga susah. Berbeda dengan di Pulau Jawa.
“Di Murung Raya memang ikan susah. Nah kalau di Kapuas kan banyak tersedia dan relatif murah. Lalu bagaimana stunting terjadi di Kapuas? Berarti itu ada pola konsumsi yang tidak benar,” sambung Sunarti.
Di sisi lain, DKP Kalteng juga mendapat beberapa kritik dan masukan guna mengambangkan ketahanan pangan ke depan. Misalnya kendala pascapanen yang mana pemerintah belum sepenuhnya hadir untuk petani. Alhasil, hasil panen petani tidak maksimal tergarap.
Kemudian juga, selama ini alat pengola hasil pertanian sangat rendah, minim peta ketahanan pangan untuk menentukan daerah rawan pangan, serta kecilnya insentif ke petani. (ROZIQIN/B-3)








