BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Puluhan Pekerja Sek Komersial (PSK), diangkut Satpol PP dan Damkar Kobar dari lokasi prostitusi Sungai Pakit, Desa Aminjaya, Kecamatan Pangkalan Banteng, dan Simpang Kodok, Kecamatn Arsel, Kabupaten Kotawaringin Barat, Senin (11/12/2017).

Puluhan PSK tersebut tiba pukul 16.15 WIB ke Satpol PP dan didampingi oleh para mucikari dan ketua RT 12, Desa Sungai Pakit. Dari 24 orang PSK tersebut 11 diantaranya adalah eksodus dari Pal 12, Pasir Putih, Sampit, Kotawaringin Timur dan 4 PSK baru tiba dari Jawa.

Ke-11 PSK yang berasal dari Kotim, rencananya akam dikembalikan ke Kotawaringin Timur secepatnya dengan berkoordinasi dengan Pemkab Kotim. Sementara untuk PSK yang baru datang dari Jawa, maka mucikari diwajibkan untuk meengembalikan dalam tempo satu minggu.

"Kami beri waktu 2 hari, dan transportasi akan kami tanggung, dan bagi yang baru datang dari jawa harus sudah balik ke Jawa pada senin depan," tegas Kepala Dinas Sosial Kabupaten Kotawaringin Barat, Gusti Nur Ainikepada Borneonews di kantornya, Senin (11/12/2017).

Ia menjelaskan dari hasil penertiban Jumlah total sebanyak 25 orang, dengan rincian 22 PSK adalah berasal dari lokasi prostitusi Sungai Pakit dan 3 dari Simpang Kodok.

Sementara itu, Kepala Satpol PP dan Damkar Kabupaten Kotawaringin Barat, Hermon F Lion menyampaikan bahwa penertiban yang dilakukan Satpol PP dan Damkar Kobar dilakukan untuk mencari solusi dan kesepakatan terkait nasib PSK kedepannya.

Ia meminta agar para mucikari dapat bekerja sama dan kooperatif untuk secara bertahap dapat menutup wismanya dan tidak menerima kembali PSK baru atau menampung eksodus PSK dari Kotawaringin Timur.

"Bukan ingin menyakiti atau membuat hal yang tidak nyaman, namun kalau bicara di TKP sulit, kalau dibawa ke (Kantor) Satpol PP sehingga dapat mencari solusi yang lebih baik, jadi harus ada kesepakatan dan berjalan dengan baik saling mengontrol dan mengawasi," ujar Hermon.

Menurut Hermon ada beberapa opsi yang ditawarkan kepada para PSK dan mucikari diantaranya adalah para PSK harus meninggalkan kota Pangkalan Bun karena cepat atau lambat seluruh lokasi prostitusi secara bertahap akan ditutup mulai pada tahun 2018. "Kesepakatannya pada tahun 2018 mulai bertahap dilakukan penertiban sehingga ngapain menumpuk. Karena itu para PSK mulai berfikir apa yang harus dilakukan kedepannya," tandasnya. (KOKO SULISTYO/B-8)