BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Apes, itulah yang dirasakan oleh dua perempuan yang baru tiba tiga hari di Pangkalan Bun dari Malang, Jawa Timur. Keduanya yakni Rahayu (20) dan Ervina (19). Mereka berdua diciduk Satpol PP dan Damkar Kobar, dari lokasi prostitusi Simpang Kodok, Kelurahan Baru, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat, Senin (11/12/2017).

Kepada Borneonews Rahayu mengaku kedatangan mereka ke Pangkalan Bun bukan untuk menjadi pekerja seks komersial tetapi untuk bekerja di rumah makan nasi tiwul, gerbang selamat datang, di Pangkalan Lima.

Namun saat Dinas Satpol PP dan Damkar Kobar dalam perjalanan setelah usai menertibkan dan mengangkut puluhan PSK dari Desa Sungai Pakit, menuju Pangkalan Bun mereka melewati Simpang Kodok dan saat itu dua perempuan itu sedang berada di salah satu rumah karaoke, kontan mereka dimasukan ke truk untuk dibawa.

"Mereka malam tadi tidur di Simpang Kodok karena di rumah makan belum ada tempat tidur, mereka ini pelayan rumah makan bukan PSK," kata pemilik rumah makan nasi tiwul yang tak mau identitasnya dimediakan.

Saat ditanyakan kenapa mereka tidur di lokasi prostitusi apakah tidak ada tempat lain perempuam setengah baya mengakui bahwa tempat karaoke tersebut kebetulan adalah milik dia." di barakan saya belum ada kamar, jadi saya suruh tidur di karaoke milik saya di Simpang Kodok," ujarnya.

Rahayu mengungkapkan hal yang sama, ia mengaku datang ke Pangkalan Bun sejak tiga hari lalu, ia dijanjikan untuk bekerja di rumah makan sebagai pelayan." Saya kebetulan disuruh tidur di Simpang Kodok oleh ibu, berdua sama Ervina, karena di rumah makannya belum ada kamar," kilahnya. (KOKO SULISTYO/B-8)