BORNEONEWS, Sampit - Dua warga yang ikut mengklaim lahan di PT BSK anak perusahaan milik Wilmar Group di Desa Tangar, Kecamatan Kota Besi, Kabupaten Kotawaringin Timur, menerima luka tembak. Diduga, peluru yang bersarang pada salah satu bagian tubuh korban berasal dari aparat.

Dua warga yang tertembak yakni Agus dan seorang pria yang akrab dipanggil abah guru. "Kalau Agus kena tembakan di kaki, kalau abah guru di paha," kata Dani warga Baamang, yang ikut mengklaim lahan bersama dua korban tersebut.

Menurut Dani sekitar 10 hari yang lalu, mereka mempertahankan lahan seluas 52 hektare yang saat ini dikuasai PT BSK. Saat itu datang sekuriti dan aparat, saat itulah terjadi penembakan tersebut.

Dani menyesalkan sikap aparat. Mereka harusnya menengahi namun sebaliknya justru membela sekuriti dengan menembaki mereka. "Kalau mau menembak kenapa kami saja yang ditembak. Sekuriti tidak ditembak," kata dia.

Kini kedua korban dalam perjalanan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan, sementara peluru masih bersarang di kaki korban. "Lahan yang kami pertahankan itu sekitar 52 hektare," tukas Dani.

Menurut Dani mereka memortal sudah sekitar 10 hari. Tujuannya, agar ada kejelasan tentang ganti rugi lahan tersebut. "Kami saat itu ingin bertemu dengan managernya. Namun yang datang sekuriti dan aparat," kata dia.

Dani mengatakan, jika lahan itu milik perusahaan mereka ingin ditunjukan legalitasnya. Namun selama ini perusahaan tidak menanggapi. Bahkan saat diajak dan dikirim surat untuk pertemuan perusahaan selalu menolak. "Kami selalu dibenturkan dengan aparat dan sekuriti," tukasnya.

Portal menurut Dani sudah sering kali dibongkar karena mereka dijanjikan akan diselesaikan masalah itu. Namun hanya janji belaka. Hingga senjata aparat ditembakkan ke mereka, dan memakan dua korban. (NACO/B-11)