BORNEONEWS, Sampit - Penembakan yang dilakukan aparat pengamanan perusahaan perkebunan kelapa sawit di Kotawaringin Timur (Kotim) terhadap warga bukan kali pertama. Dari catatan Borneonews.co.id sepanjang empat tahun terakhir ini aksi penembakan terhadap warga sudah terjadi tiga kali ini.
Kejadian pertama pada 10 Juni 2014 silam di PT Agro Bukit, Desa Penyang, Kecamatan Telawang. Korbannya adalah Aja Siswanto, warga Desa Penyang. Penembakan berawal dari kasus sengketa lahan. Aja tewas setelah peluru aparat bersarang di tubuhnya.
Tidak sampai di situ, pada 9 Juli 2015 penembakan warga kembali terulang di PT Hutanindo Alam Lestari (HAL), Desa Tanjung Jorong, Kecamatan Tualan Hulu di mana Candra alias Pingoi, warga Luwuk Sampun, tewas setelah ditembak aparat. Penembakan ini klaim lantaran korban mencuri sawit milik perusahaan.
Bahkan, kejadin itu sempat mengundang emosi masyarakat. Warga yang tidak terima sempat mengamuk dan membakar areal perusahaan PT HAL.
Belum hilang diingatan masyarakat kejadian serupa kembali terulang. Dua warga ditembak yakni Abah Abu alias Abah Guru warga Kalap, Kecamatan Teluk Sampit dan Agus warga Kecamatan Baamang.
Keduanya mengalami luka tembak di kaki akibat ulah brutal petugas keamanan PT BSK (Wilmar Group) di Desa Tangar, Kecamatan Kota Besi. Mereka menyebut saat itu sedang mempertahankan lahan perusahaan. Warga dituduh dituduh melakukan pencurian sawit dan menyerang aparat.
Aktivis di Kabupaten Kotim, Gahara menyesalkan tindakan aparat tersebut, harusnya ini tidak perlu terjadi bahkan menurut Gahara ini akan jadi perhatian mereka di LSM Balanga, bahkan pria yang cukup vokal ini berjanji akan mengikuti kasus ini.
"Kami akan melakukan investigasi terkait penembakan warga tersebut, apabila ditemukan pelanggaran SOP maka kita akan ikut laporkan oknum aparat ke Komnas HAM," pungkasnya. (NACO/B-5)








