BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Permintaan minyak sawit sepertinya masih tetap lesu pada Desember meski terjadi penurunan harga. namun demikian, permintaan diestimasi meningkat pada Januari 2018.

Pelaku pasar di Kuala Lumpur dan Jakarta mengatakan perkiraan terjadi peningkatan permintaan mulai Januari tahun depan tak lepas dari dimulainya persiapan untuk memperingati tahun baru China (Imlek) yang jatuh pada medio Februari 2018.

Sedangkan harga acuan minyak sawit mentah (CPO) telah merosot sekitar 12 persen sejak awal November, dan bergerak di kisaran 2.430 ringgit ($596) pada akhir pekan lalu.

Kejatuhan harga CPO itu terutama dipicu oleh penurunan ekspor, terutama dari Malaysia, seiring dengan kenaikan bea masuk minyak nabati di India, selain juga akibat menguatnya ringgit.

"Biasanya permintaan tinggi terjadi dari India, tapi kenaikan bea masuk telah membuat permintaan ekspor melambat, sehingga prospek hingga akhir tahun ini untuk stok minyak sawit di Malaysia mencapai 2,7 juta ton," kata pelaku pasar yang menolak disebutkan identitasnya itu, sepertti dikutip The Star.

Tetapi permintaan diprediksi meningkat dengan asumsi masyarakat di China akan mulai berbelanja segala bahan baku makanan berbasis minyak sawit dan juga minyak nabati untuk merayakan Imlek pada Februari.

Sementara itu, peneliti dari CIMB Investment Bank, Ivy Ng, menyebutkan bahwa tingginya permintaan biasanya juga akan berimbas pada kenaikan harga. Untuk itu, ia memprediksi harga CPO akan berada di kisaran 2.400-2.600 ringgit pada Januari. (NEDELYA RAMADHANI/m)