BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Selain limbah kulit dan cangkangnya, kayu batang pohon kelapa sawit juga dapat menjadi komoditas baru, yakni sebagai bahan baku industri kayu atau atau pembuatan mebel.

Dengan luasnya areal tanam pohon kelapa sawit yang perlu diremajakan di Indonesia, tentu tersedia bahan baku kayu sawit yang mencukupi untuk bahan baku mebel.

Bahkan Malaysia sudah mencanangkan target sebagai negara pertama di dunia yang menggunakan kayu sawit sebagai bahan baku pembuatan mebel. Menteri Perladangan dan Komoditi Malaysia, Datuk Seri Mah Siew Keong, mengatakan bahwa di Malaysia terdapat 5,7 juta hektare lahan sawit yang tengah menjalani proses peremajaan setelah 25 tahun.

“Setiap tahun, terdapat sekitar 80.000 ha hingga 100.000 ha lahan sawit yang siap panen dan diremajakan. Sehingga terbuka peluang untuk mendapatkan bahan baku kayu untuk industri kayu dan mebel," ucapnya, seperti dilansir The Star.

Saat ini, industri kayu tengah menghadapi kelangkaan bahan baku dan tingginya harga kayu karet. Jadi, kayu sawit ini dapat menjadi alternatif sempurna untuk mengatasi masalah tersebut.

Untuk diketahui, selama ini kayu sawit belum digunakan secara optimal untuk mendukung industri kayu, karena para pelaku industri sawit lebih fokus pada pemanfaatan cangkang sawit dan tandan kosong sebagai energi biomassa.

Permintaan Jepang untuk cangkang sawit dari Indonesia tumbuh lebih dari 40% dalam tiga tahun terakhir.

"Kami melihat fenomena baru ekspor produk sawit di mana ekspor cangkang sawit dan tandan kosong sawit naik sangat pesat," kata Ketua Umum Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (PERHEPI), Bayu Krisnamurthi, di Jakarta, baru-baru ini,  

Menurut Bayu, ekspor biomasa sawit ke Jepang tahun lalu mencapai 450.000 ton dan ke Korea mencapai 400.000 ton, dengan nilai ekspor total kedua negara itu senilai lebih dari Rp1 triliun.

Untuk harga cangkang sawit saat ini berkisar US$80 hingga US$85 per ton untuk harga di atas kapal atau freight on board (FOB).

Informasi dari Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang menyebutkan energi mix Jepang saat ini telah mencapai 14,6% dalam bentuk energi baru dan terbarukan (EBT), yang 2% dari bioenergi termasuk cangkang sawit. (NEDELYA RAMADHANI/m)