BORNEONEWS, Sampit - Keberadaan pasar yang baru dibangun di Jalan Jend A Yani Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dinilai merusak tananan kota.

Bahkan proyek itu ada yang menganggap sebagai program terburuk yang tidak terencana dan dipastikan akan menganggu tatanan Kota Sampit.

"Malu rasanya, orang dari luar menertawakan bangunan itu. Mereka awalnya tidak percaya, saya juga sebelumnya tidak percaya," komentar Yohanes Aridian, seorang tokoh masyarakat di Sampit, Jumat (22/12/2017).

Parahnya lagi, sambung mantan anggota DPRD Kotim itu,  pasar tersebut dibangun di dekat perkantoran dan sekolah. Keberadaan pasar itu dinilai merusak program perencanaan kota Sampit menuju Kota Wisata yang dicanangkan oleh kepala daerah.

Menurutnya, apabila itu dibangun karena alasan serapan anggaran yang mendekati akhir tahun sangat tidak masuk akal. Bahkan program pasar lain masih banyak memerlukan bangunan pasar. Seperti halnya pasar Mangkikit yang hingga kini belum jelas bangunannya.

"Dana APBD tidak serta merta mengabaikan tatanan kota Sampit. Patut dipertanyakan kualitas pejabat yang merencanakan itu dalam memimpin SOPD, “ kata Yohanes.

Bahkan, sambung dia, sejumlah rekannya dari luar daerah menjadikan bangunan pasar di tengah kota itu sebagai guyonan. Apalagi melihat lahan parkir yang tidak tersedia.

Awalnya ia mengira pasar itu untuk menampung para PKL, hingga setelah selesai ini diketahui ternyata untuk pasar ikan yang limbahnya dikhawatirkan akan merusak Kota Sampit dan menimbulkan permasalahan baru. (NACO/B-5)