Pelakor. Istilah pelakor atau perebut lelaki orang mulai booming 2017 ini. Berdasarkan pengamatan saya, istilah itu kerap digunakan warganet untuk menyebut perempuan yang merebut suami orang.

Sebenarnya, pelakor ini sudah lama ada. Hanya saja, dulu istilahnya lebih elegan, yaitu WIL atau wanita idaman lain. Kenapa saya sebut elegan? Karena ada sebutan idaman. Artinya, mirip dengan seseorang yang diidolakan. Dengan kata lain, pria yang mengidolakan perempuan itu. Berbeda dengan pelakor, perempuan yang merebut. Tapi bagi saya, apapun istilahnya, intinya tetap sama. Perselingkuhan.

Perselingkuhan ini sangat dihindari dalam kehidupan berumah tangga. Tapi tidak bisa dimungkiri, ada yang menyebut selingkuh ini sebagai 'hobi' alias selingan hidup dengan berbagai dalih. Misalnya, karena tidak memiliki keturunan, hubungan jarak jauh, kebutuhan ekonomi, dan yang ekstrim karena sengaja mencari tantangan.

Begitu pula dengan para pelakor. Pelakor ini menjadi musuh ibu zaman now. Berdasarkan pengamatan saya melalui Facebook, setiap kali ada postingan yang berhubungan dengan pelakor, selalu muncul berbagai komentar, mulai dari dukungan kepada istri yang menjadi korban sampai ke hujatan kepada pelakor.

Kalau boleh saya mengibaratkan, pelakor ini semacam virus yang mudah menyebar dan berkembang biak. Kenapa begitu?

Karena ada perempuan yang bangga atas keberhasilannya merebut suami orang. Bahkan, para pelakor ini seolah memiliki komunitas yang saling membanggakan keberhasilannya. Mereka tidak lagi malu karena merebut suami orang. Bahkan, para pelakor ini pun sangat lihai.

Pelakor bisa lebih lincah dan tahu persis celah korbannya. Mereka bisa menjelma menjadi perempuan yang alim, lemah lembut dan seolah membutuhkan pertolongan mangsanya. Padahal sejatinya, pelakor ini sangatlah ganas.

Di sini saya sangat ekstrim menyebut pelakor sebagai pihak yang bersalah. Karena saya yakin, kalau perempuan menolak untuk bertindak, perselingkuhan tidak akan ada. Yang ada hanya pelecehan, pemaksaan atau pemerkosaan. Apalagi, kalau si perempuan yang lebih aktif untuk bertindak.


Kecanggihan teknologi
Di era digital ini, menjadi tantangan ibu zaman now untuk membentengi suaminya dari para pelakor. Kecanggihan teknologi memudahkan para pelakor untuk beraksi. Banyaknya media sosial bisa menjadi sarana pelakor untuk menemukan mangsanya. Bukan berarti melarang untuk menggunakan media sosial.

Sebagai ibu zaman now, kita juga harus bijak memanfaatkan media sosial. Yang perlu dicatat, jangan umbar perselisihan dengan pasangan di media sosial. Itu akan menjadi celah bagi pelakor.

Manfaatkan kecanggihan teknologi untuk saling mengetahui posisi satu sama lain tanpa mengganggu aktivitas pasangan kita. Biarkan ponsel yang berbicara di mana lokasi pasangan kita. Saya rasa tidak berlebihan jika sebagai pasangan mengetahui di mana suami kita berada. Tapi tentu ini berdasarkan kesepakatan bersama dengan berbagai pertimbangan.

Jangan sampai juga kecanggihan teknologi justru menjauhkan kita dengan pasangan. Sebab, banyak pasangan suami istri yang lebih asyik dengan gawainya saat berkumpul dengan anggota keluarga.

Sebagai ibu zaman now, kita tidak boleh kalah dengan pelakor. Ibu zaman now harus bisa mandiri, cerdas, dan tangguh. Setidaknya memiliki penghasilan sendiri sehingga ketika ada ancaman pelakor dan mengganggu finansial keluarga, ibu zaman now masih bisa enjoy di salon untuk mempercantik diri.

Ibu zaman now juga harus cerdas memanfaatkan waktu. Membagi waktu untuk mengurus rumah tangga, mengasuh anak-anak dan berduaan dengan suami. Manajemen waktu yang tidak tepat bisa menjadi celah juga bagi pelakor.

Untuk itu, ibu zaman now juga harus tangguh. Masalah apa pun yang menerpa, harus bisa tersenyum di depan anak. Jangan sampai anak terbebani dengan masalah emaknya. Ingat, ibu memiliki peran penting dalam mencetak generasi penerus bangsa yang berkualitas.

Akhir kata, meski agak telat saya ucapkan Selamat Hari Ibu, semoga kita mampu menjadi ibu yang tangguh, ibu yang mampu mencetak anak agar memiliki mental yang kuat dan akhlak yang baik. (OKTRIKA NUGRAHENI)