BORNEONEWS, Kuala Kapuas - Wilayah Dadahub yang merupakan kawasan pengembangan lahan gambut (PLG) rawan banjir, karena datarannya rendah.

Kepala Dinas Transmigrasi Kabupaten Kapuas, Sukiran, mengatakan, di daerah Dadahub terdapat 15 Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT) yang selalu terdampak banjir karena datarannya yang rendah. "Banjir ini bermuara dengan pemeliharaan dan pembenahan tanggul yang rusak," ucap Sukiran, Selasa (26/12/2017).

Ia meyakini, apabila tanggul dibenahi, tidak akan terjadi lagi banjir di sekitar 15 UPT tersebut. "Kerusakan tanggul-tanggul ini bisa diakibatkan kebakaran lahan, penurunan atau terjadinya penjebolan. Kita sudah memiliki kesepakatan kepada 15 kepala desa," terang Sukiran.

Kesepakatan yang dimaksud yaitu pemkab akan mengupayakan pembenahan tanggul, lalu desa mengurusi pintu air, pompa air dan pengelolaan.

Menurutnya, kalau permasalahan tanggul ini bisa ditangani maka akan menjadikan kawasan ini bebas banjir karena sistem pintu air dioperasionalkan perangkat desa.

Secara umum, Kabupaten Kapuas memiliki dua wilayah PLG dengan karakter yang berbeda. Pertama di wilayah Dadahub yang datarannya rendah sehingga berpotensi terjadinya banjir. Kedua, daerah Lamunti yang datarannya relatif tinggi.

"Daerah Lamunti ini wilayahnya sudah memiliki banyak Perusahaan Besar Swasta (PBS) perkebunan Kelapa Sawit sehingga kehidupan masyarakat di sana lumayan baik." (HAMDI/B-2)