BORNEONEWS, Muara Teweh - Beberapa hari terakhir air Sungai Barito mengalami penyurutan. Akibatnya, sejumlah kapal dan tongkang pengangkut batu bara yang biasa berlayar di alur sungai itu kandas hingga terperangkap selama beberapa hari.

"Hampir lima hari terakhir angkutan kapal dan tongkang bermuatan batu bara tidak bisa berlayar. Bahkan tongkang yang kami bawa ke wilayah hulu tidak bisa lewat. Sehingga terpaksa kami tambat di sekitar bukau wilayah hulu Kota Muara Teweh atau sekitar hulu Karang Jawa, Kelurahan Melayu, Kabupaten Barito Utara,” kata seorang warga pemandu kapal, Udin Mimi, Selasa (26/12/2017).

Menurutnya, sejumlah kapal tarik atau tugboat dan tongkang yang sebelumnya berlayar ke hulu maupun hilir pada saat debit air Sungai Barito naik, kini terpaksa sandar di beberapa tempat di pinggiran Sungai Barito.

Sementara itu, Kepala UPTD Dermaga Muara Teweh Muhammad Nurdin mewakili kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Barito Utara, mengatakan bahwa saat ini ketinggian air Sungai Barito pada angka 3,55 meter. Angka tersebut tidak aman untuk pelayaran kapal bertonase besar.

“Sedangkan kondisi air Sungai Barito dengan panjang 900 kilometer sampai wilayah Kabupaten Murung Raya dan mengalir ke wilayah selatan di Kalimantan Selatan, sekarang sulit diramalkan. Sebab terkadang surut dan terkadang cepat banjir yang disebabkan diguyur hujan lebat di wilayah hulu serta sejumlah anak sungai lainnya,” ujar Nurdin.

Ia menyebutkan, meski saat ini hujan masih turun, kenyataannya debit air Sungai Barito masih turun dan kalau di wilayah hulu hujan, maka air kembali naik. Maka dari itu, sulit memprediksi kondisi air Sungai Barito.

Meski begitu, sambungnya, sejumlah kapal barang dan angkutan penumpang yang beratnya sedang saat ini belum mengalami hambatan atau kendala. Mereka masih lalu lalang dengan lancar.

Di tempat terpisah, Camat Montallat Muhammad Mastur, mengatakan dampak air Sungai Barito surut membuat tiga unit tongkang kandas di kawasan Teluk Siwak, Kelurahan Montallat II, Kecamatan Montallat. Namun tidak mengganggu arus transportasi sungai.

"Untuk dua unit tongkang pengakut batu bara ini mengalami bocor dan patah sejak lama, sedangkan satu buah tongkang bermuatan ribuan ton batu bara kandas dalam sepekan terakhir," sebutnya. (RAMADANI/B-3)