BORNEONEWS– Pascareformasi, pertumbuhan pers sangat pesat. Namun demikian, permasalahan yang terjadi adalah konten pemberitaan yang berkualitas kurang diperhatikan.
Dengan kemajuan teknologi, kesempatan daerah perbatasan untuk menikmati berita berkualitas bukan lagi menjadi hambatan. Oleh karena itu, kompetensi wartawan di daerah perbatasan sangat penting dan perlu ditingkatkan.
Demikian dikatakan Adi Lazuardi, wartawan senior, dalam Diskusi Publik Kaukus Muda Indonesia (KMI) bertema Optimalisasi Kompetensi Wartawan dalam Pemberitaan Pembangunan Daerah Perbatasan dalam Rangka Meningkatkan Nasionalisme, Rabu (27/12/2017), di Gedung Dewan Pers, Jakarta.
“Perlu juga ditingkatkan kompetensi wartawan di daerah. Uji kompetensi yang dilakukan oleh Dewan Pers sebaiknya difokuskan khusus bagi wartawan yang bertugas di daerah, terutama perbatasan. Hal ini sangat penting dilakukan di daerah untuk mendukung program Presiden Joko Widodo dalam mengembangkan daerah perbatasan,” ujar Adi.
Ia menambahkan, upaya yang dilakukan Malaysia terkait pemberitaannya positif membuat kemajuan bagi negara tersebut. Anehnya di Indonesia sering kali dinilai tidak layak naik berita ketika ada bahan pemberitaannya yang baik. Padahal berita positif tentang perbatasan dapat mengedukasi.
Hal senada dikemukakan Mukhlis Yusuf, Pokja Revolusi Mental. Menurutnya, informasi yang tidak benar ketika diberitakan terus-menerus maka sering dianggap sebagai kebenaran. Ia berharap, daerah yang sedang melakukan pembenahan harus diberitakan secara riil karena kebohongan yang terorganisasi akan mengalahkan kebenaran.
Sementara itu, Robert Simbolon, Deputi I BNPP, sangat mengapresiasi yang sudah dilakukan pemerintah Jokowi dan kesungguhan masyarakat kawasan perbatasan untuk membangun daerah. Setelah sempat sekian lama terpinggirkan atau termarjinalkan oleh sistem pembangunan di Indonesia.
“Dari sisi pemerintah, kami melaksanakan apa yang menjadi tugas pokok dan fungsi kami. Dalam hal ini, dibutuhkan kerja sama yang baik dengan dunia pers. Namun demikian, pihak pers duluan yang harus tahu apa kendala yang dihadapi oleh pers itu sendiri di perbatasan? Bagi kami tidak pernah terganggu dengan pemberitaan-pemberitaan di daerah perbatasan sepanjang beritanya valid,” ungkapnya. (RO/B-3)








