BORNEONEWS, Nanga Bulik - Pasien bernama Yani Ato (6), pasien diduga menderita penyakit gizi buruk yang semula dirawat di RSUD Lamandau telah resmi dirujuk ke RSUD Imanuddin Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) pada Kamis (28/12/2017).

Pasien anak yang merupakan buah hati dari Antonius Ato tersebut dirujuk oleh RSUD Lamandau dengan pendampingan ekstra dari pengurus DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Lamandau.

Sebelumnya, pengurus KNPI Lamandau sendiri merupakan pihak yang pertama yang berinisiatif membawa pasien dengan tubuh kering kerontang itu ke RSUD Lamandau setelah mereka mendapati anak dan ayah duduk di halte depan sekolah MIN, Jalan Batu Batanggui, Nanga Bulik, Rabu (27/12/2017) sore.

"Kini anak yang diduga terindikasi gizi buruk tersebut sudah di RSUD Pangkalan Bun, dia dirawat inap disana," ungkap Ketua KNPI Lamandau, Gusman, saat ditemui Borneonews, Jumat (29/12/2017).

Gusman juga menjelaskan, sejak saat pertama pasien tersebut dimasukkan ke RSUD Lamandau, ia sendiri belum mendapatkan keterangan yang pasti terkait penyakit yang diderita anak keturunan Nusa Tenggara Timur (NTT) itu. Meski di sisi lain, diakuinya bahwa petugas RSUD Lamandau cukup responsif melakukan penanganan kepada pasien saat pihaknya membawa anak tersebut masuk IGD.

"Beberapa saat setelah kita masukkan (anak tersebut) ke RSUD (Lamandau), petugas medis langsung mengambil tindakan dengan cepat, terlebih saat petugas mengetahui bahwa kondisi anak tersebut sangat lemah dan berbadan sangat kurus. Namun kami belum mendapat konfirmasi pasti terkait jenis penyakit yang diderita anak tersebut, meskipun desas-desusnya pasien tersebut diduga mnderita penyakit mematikan seperti halnya HIV/Aids," jelasnya.

Namun, sambung Gusman, setelah keesokan harinya kami ikut merujuk pasien tersebut ke RSUD Imanuddin (Pangkalan Bun), kami mendapat konfirmasi bahwa pasien tersebut murni terindikasi gizi buruk.

"Kalau dari keterangan pihak RSUD Pangkalan Bun, pasien tersebut diduga kuat terindikasi gizi buruk, dan kini telah ditangani secara medis serta rawat inap, bahkan salahsatu dokternya menyampaikan bahwa pasien tersebut akan terlebih dulu mendapatkan penanganan untuk diearenya, kemudian penanganan selanjutnya fokus dalam masalah gizinya," beber dia.

Sementara itu, berdasarkan hasil perbincangan Borneonews dengan ayah dari pasien saat berada di RSUD Lamandau, yakni Antonius Ato, disebut bahwa anaknya tersebut menderita sakit sejak Maret 2017 lalu, tepatnya setelah dua bulan ditinggalkan isterinya meninggal dunia karena sakit.

Ia juga mengaku bahwa selama anaknya sakit telah mencoba melakukan pengobatan ke sejumlah daerah baik melalui proses pengobatan medis maupun pengobatan tradisional.

"Kalau berobat di Rumah Sakit pernah beberapa kali, termasuk di RSUD Lamandau dan juga Rumah Sakit di Buntok (Barito Selatan), tapi sakit anak saya ini tidak ada perubahan termasuk tidak dijelaskan sakitnya apa, makanya saya ke sana-sini mencari pengobatan termasuk ke Sampit dan juga ke kota Palangka Raya," kata Antonius Ato, yang juga mengaku mantan karyawan perusahaan perkebunan Kelapa Sawit PT. Sawit Lamandau Raya (SLR) yang ada di Lamandau itu.

Sejak anak saya sakit dan harus saya cari pengobatan ke mana-mana, beber Antonius Ato, saya terpaksa tidak bekerja lagi di perusahaan (SLR). Meskipun pernah ada upaya untuk kembali bekerja di PT. SLR namun pihak perusahaan tidak menerima saya lagi.

"Saya dan anak saya ini baru saja tiba di Nanga Bulik perjalanan dari daerah Sebabi (Kotim), rencananya mau kembali ke daerah Karang Taba atau daerah Tanjung Beringin (kecamatan Lamandau) untuk cari obat tradisional, tapi saat saya menunggu jemputan di halte bis saya ketemu banyak orang yang simpatik termasuk bapak-bapak ini (KNPI) yang langsung mengajak saya membawa anak saya ke RSUD untuk dirawat," ujarnya.

Antonius juga mengaku bahwa kondisi anaknya semula layaknya anak-anak pada umumnya, gemuk atau tidak kurus kering seperti saat ini. "Namun sejak sakit, khususnya sejak tiga bulan ini anak saya semakin kurus tinggal tulang, makanpun susah, sakit-sakitan terus, kondisinya semakin lemah," keluhnya. (HENDI NURFALAH/B-8)