BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Emiten sektor perkebunan diproyeksi melanjutkan pertumbuhan kinerja keuangan hingga akhir tahun ini.

Kondisi itu didukung oleh asumsi pertumbuhan harga jual minyak sawit mentah (CPO) seiring dengan proyeksi perlambatan volume produksi di Indonesia dan Malaysia.

RHB Securities memperkirakan harga jual CPO menguat menjadi Rp8,5 per ton pada 2018 dan menjadi Rp9 juta per ton pada 2019.

Pada November 2017, harga jual CPO turun ke titik terendah Rp7,99 juta per ton dibandingkan level tertingginya Rp11,14 juta per ton pada Februari 2017.

"Kami memperkirakan terjadi perlambatan pertumbuhan produksi CPO Indonesia pada 2018. Kondisi ini mendorong kami untuk merevisi naik asumsi harga jual CPO dari Rp8 juta menjadi Rp8,5 juta per ton," kata analis RHB OSK Securities, Hariyanto Wijaya, dalam risetnya.

Terkait produksi CPO, RHB Securities menyebutkan, bakal terjadi perlambatan pertumbuhan volume di Indonesia menjadi 3% hingga 5% pada 2018, dibandingkan dengan lonjakan tahun lalu sekitar 21%. Sedangkan pertumbuhan volume produksi CPO Malaysia diestimasi mencapai 5% hingga 7% pada 2018 dan puncak produksi CPO Malaysia diperkirakan terjadi pada kuartal I tahun ini.

"Penurunan volume produksi, dipengaruhi dampak berlanjutnya La Nina di Indonesia dan Malaysia hingga 2018. Kondisi cuaca ini akan menurunkan produksi kelapa sawit dalam jangka pendek dan bisa berimbas positif terhadap kenaikan rata-rata harga jual CPO ke depan," papar Hariyanto.

Sejumlah kondisi tersebut mendorong RHB Securities merevisi naik target kinerja keuangan sejumlah perusahaan perkebunan sawit untuk 2018 hingga 2019 berkisar 1% sampai 15%. Kenaikan ini merefleksikan estimasi kenaikan harga jual CPO 2018.

Siklus penurunan volume produksi CPO juga diperkirakan berlanjut hingga 2019. (NEDELYA RAMADHANI/m)