BORNEONEWS, Palangka Raya - Mantan Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng), Gatot Amrih, bertandang di Istana Isen Mulang, Palangka Raya Minggu (14/1/2018). Di depan Gubernur Kalteng, Sugianto Sabran, Gatot Amrih mengenang masa lalunya saat menjabat di Kalteng.
Dia bertandang ke rumah jabatan (Rujab) Gubernur Kalteng, yang pernah didiaminya semasa menjabat pada 1984 -1989. Gatot disambut gubernur di meja oval yang terletak di ruang bagian belakang Rujab.
“Arwana yang sekarang ikan mahal, dulu itu dimakan. Sapi satu ekor, itu cukup untuk orang satu kota ini. Jadi orang yang suka buntut, kalau gak cepat akan gigit jari, karena cuma satu yang dapat,” cerita Gatot.
“Penerangan baik rumah pejabat maupun rakyat, ya dari templok pakai minyak itu. Sepeda pun jarang dimiliki, mobil hanya ada di Jawa. Kita banyak minta ke pusat, agar pesawat bisa mendarat kesini juga minta,” kenangnya.
Hal ini mengilustrasikan jumlah penduduk saat itu, kondisi perekonomian di kota dari sebelumnya merupakan hutan, dan kiprah para gubernur pertama hingga pada eranya.
--page
Meski sudah berumur 82 tahun, ia masih hafal mengingat masa lalunya dan menceritakannya dengan begitu lancar. Termasuk saat dia dipanggil Presiden dan diminta menjabat, dan dia meminta sejumlah fasilitas pemerintahan agar ‘dipenuhi’ presiden. Dia pun masih kuat berjalan sendiri ditemani tongkatnya.
“Penerbangan itu ditempuh selama 2,5 jam. Bandaranya namanya bukan kayak sekarang. Dulu namanya Bandara Panarung. Panjang landasannya, itu sampai jalan raya sekarang. Jadi Warung Wong Solo sekarang ini, dulu adalah ujung landasan. Pejabat yang turun dari bandara kala itu, turun naik langsung naik becak menuju rumah jabatan,” beber Gatot. (ROZIQIN/B-11)








