BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Yani Ato, bocah berusia enam tahun penderita gizi buruk atau marasmus yang sempat dirawat di Ruang Sindur RSUD Sultan Imanuddin Pangkalan Bun , Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) akhirnya mengembuskan nafas terakhir, Rabu (17/1/2018) sekitar pukul 18.30 WIB.
Berpulangnya Yani membuat anggota Relawan Kobar yang selama ini merawat bocah tersebut diliputi suasana duka yang mendalam.
Sigit salah seorang anggota relawan Kobar menceritakan sebelum meninggal, Yani sempat kritis selama beberapa menit. Bahkan, sempat darah keluar dari mulut Yani, dan pendarahan dari lambung.
Rencananya Yani akan dimakamkan proses secara agama Katolik, rekan relawan yang lain telah membeli persiapan pemakaman seperti pakaian pesta, sepatu dan anting.
“Sebelum meninggal 3 hari yang lalu dia sempat mencari ayah angkat, dua hari yang lalu minta anting, namun belum sempat dibelikan,” tandasnya.
Dia menceritakan meninggalnya Yani memyebabkan beberapa anggota Relawan Kobar terpukul. "Salah satunya adalah Indra Alvian. Ia sempat terpukul karena dari awal ikut merawat Yani hampir 24 jam. Bahkan ia sempat down, karena kehilangan Yani,” ujarnya.
Namun, lanjut Sigit, ayah angkatnya Yani yakni AA (42 tahun) sejak dua minggu lalu telah menghilang, kabarnya ayah angkat Yani sempat membawa koper dan sejumlah uang.
“Menurut info terakhir ayah angkatnya kerja di Sampit. Sedangkan untuk jenazah Yani, saat ini kita masih belum tahu mau dimakamkan di mana. Pastinya proses pemakamannya secara agama Katolik,” jelasnya.(WAHYU KRIDA/B-11)








