BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Setelah kejatuhannya pada Jumat lalu (19/1/2018), harga CPO berpotensi bergerak naik pada Senin (22/1/2018) karena adanya sentimen penurunan produksi serta melemahnya ringgit.
Analis minyak nabati, Dorab Mistri, mengatakan minyak sawit diperkirakan akan diperdagangkan di rentang 2.500 - 2700 ringgit per ton karena turunnya produksi mulai bulan Maret dan seterusnya, serta level cadangan yang akan turun mulai saat ini sampai bulan Juli.
Akan ada kenaikan untuk harga minyak sawit yang telah turun lebih dari 10% sejak awal November yang disebabkan meningkatnya cadangan di Malaysia. Level cadangan di Malaysia naik ke level tertinggi dalam lebih dari dua tahun pada bulan lalu, menyentuh level 2,7 juta ton.
"Produksi minyak sawit biasanya akan naik selama kuartal keempat setiap tahunnya sebelum turun sampai pertengahan tahun selanjutnya," kata Analis PT Monex Investindo Futures Faisyal dalam risetnya di Jakarta, Senin.
Namun, para analis memperkirakan akan melihat penurunan musiman yang lebih lambat pada tahun ini, karena tren produksi yang terkena dampak dari cuaca kering El Nino di tahun 2015.
Untuk pergerakan ringgit pukul 11:35 WIB terlihat melemah 0,05% di level 3,9405 per dolar AS. Ringgit yang melemah akan membuat harga minyak sawit lebih murah untuk pemilik mata uang lainnya yang dapat meningkatkan jumlah permintaan.
"Potensi rentang perdagangan pada hari ini terlihat di antara 2.415 - 2.475 ringgit per ton," ujar Faisyal.
Jika harga menembus ke atas level 2.475, katanya, harga dapat menguji level resisten psikologis di 2.500, sementara jika harga menembus ke bawah level 2.415 dapat memicu penurunan lanjutan menuju ke 2.385. (NEDELYA RAMADHANI/m)








