BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Analis BNI Sekuritas Thennesia Debora menyatakan kinerja sektor perkebunan sejatinya masih akan positif hingga akhir tahun ini.
"Namun memang secara sektoral kami lebih memberikan outlook netral. Karena kami lihat masih ada beberapa tantangan," katanya dalam risetnya pekan ini.
Harga crude palm oil (CPO) masih akan cenderung tertekan karena rilis data ekspor Malaysia yang menunjukkan penurunan. Secara historis, penjualan ekspor Malaysia sendiri cenderung turun.
"Tahun ini, akan ada lonjakan produksi, sehingga dengan turunnya ekspor dari Malaysia ini makin menguatkan isu oversupply," papar Thennesia.
Berkurangnya efek El Nino, lanjut Thennesia, membuat produksi cenderung meningkat, sehingga harga CPO pada 2018 bisa lebih tertekan.
--page
"Perlu juga cermati kebijakan dari negara importir CPO. Misalnya India yang merupakan negara importir terbesar," ujarnya.
Thennesia menambahka, harga CPO tahun ini masih cenderung berada di kisaran RM 2.700 per metrik ton. Meski dirundung isu oversupply, masih ada beberapa sentimen lain yang bisa menjadi sentimen positif bagi industri CPO.
"Misalnya saja, rencana kenaikan suku bunga The Fed yang berpotensi memperkuat dolar Amerika Serikat. Ekspektasi ada peningkatan suku bunga The Federal Reserve akan positif untuk harga CPO dan mengakibatkan penguatan dolar AS terhadap ringgit Malaysia," tutur Thennesia. (NEDELYA RAMADHANI/m)








