BORNEONEWS, Buntok – Kurang lebih tiga tahun harga karet getah di Barito Selatan (Barsel) tak kunjung membaik membuat para petani karet kelabakan.
Salah satu petani karet di Desa Sarimbuah Kecamatan Gunung Bintang Awai (GBA), Sabato mengatakan, harga karet getah harganya anjlok kurang lebih tiga tahun ini.
“Harga karet getah di tingkat petani Rp4.500 sampai Rp5.000 per kilogramnya,” kata Sabato kepada Borneonews, Sabtu (27/1/2018).
Dengan harga seperti itu, bisa dibayangkan. Para petani kalang kabut membagi penghasilan supaya mencukupi kebutuhan hidup.
Diperparah lagi dengan harga kebutuhan pokok yang terus menerus mengalami kenaikan.
--page
“Saat ini harga kebutuhan pokok tidak sebanding dengan harga jual karet. Dan itu kurang lebih tiga tahun ini kami rasakan,” ucapnya.
Ia menambahkan, dengan keadaan seperti ini banyak sepeda motor kreditan telah ditarik oleh dialer. Karena lebih baik membeli kebutuhan hidup sehari-hari dari pada bayar kredit.
“Kita berharap kepada Pemerintah melalui instansi terkait agar bisa memantau harga kebutuhan pokok agar bisa mengurangi beban kami,” pintanya.
Hal senada diungkapkan, Senji, petani karet dari Km 8 Desa Bundar Kecamatan Dusun Utara. Menurut dia, tak kunjung membaiknya harga karet dan melambungnya harga kebutuhan pokok mencekik leher para petani.
Tidak naik-naiknya harga karet ini, lanjut dia, amat sulit diprediksi karena para petani tidak bisa melihat atau mengontrol harga karet.
--page
“Harga karet di kalangan petani amat ditentukan oleh para tengkulak. Sementara para tengkulak hanya menerima ketentuan harga karet dari pemilik pabrik atau gudang,” ucapnya.
Meski demikian, pihaknya hanya bisa menerima tanpa bisa berbuat apa-apa. Seharusnya ada sumber informasi tentang pergerakan harga komoditas pertanian khususnya harga karet, sehingga para petani tidak buta informasi. (URIUTU DJAPER/B-5)








