BORNEONEWS, Sampit - Sebelum ditemukan tewas di atas kasur tempat tidurnya di toko bawang Mentaya Town Palace, Jalan Ir H Juanda, Sampit, Herman (50) sempat mengeluh sakit kepada pemilik toko.
"Malam saat saya naruh bawang di dalam toko, dia sempat bilang sakit, namun setelah itu saya tidak tahu karena saya langsung pulang," ujar Husairi, sang pemilik toko, Senin (29/1/2018).
Sepengetahuan Husairi, korban sendiri semasa hidupnya menderita sakit tekanan darah tinggi. Hal itu sudah lama dideritanya. Namun sangat jarang dia mengeluhkan, dan terlihat sehat-sehat saja.
"Ia semasa dia masih hidup, pernah mengatakan bahwa tekanan darah tinggi. Itu saja yang saya ketahui," kata Husairi.
Herman tidur di toko memang disuruh oleh Husairi. Mengingat sebelumnya dia hanya tidur di luar kawasan emperan toko tersebut.
--page
"Sudah hampir setahun berada di sini, saya kasihan saja lihat dia tidur di luar, pastinya dingin. Sehingga hal itulah yang membuat saya menyuruhnya tinggal di toko saya ini," terang Husairi.
Sementara, ditemukannya jasad mayat tersebut bermula ketika pemilik toko membuka tokonya sekitar pukul 04.00 WIB. Di mana saat itu tidak seperti biasanya, karena korban pada saat dibuka tidak juga bangun.
Namun dikira oleh sang pemilik bahwa dia kelelahan sehingga tidur pulas. Tetapi sekitar pukul 05.00 WIB, datang temannya dan memanggil namanya. Tetapi tidak juga ada sahutan, hingga akhirnya sanga kawan langsung mendekati dan membuka sarungnya.
Ternyata sudah tidak bernapas, dan diperiksa nadinya juga tidak ada detaknya sama sekali. Setelah itu, barulah pemilik toko mengetahui, dan langsung memanggil sejumlah warga lainnya.
Saat ini jasad sendiri baru saja dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr Murjani Sampit untuk dilakukan visum, dan kasus ini sendiri masih ditangani aparat kepolisian. (MUHAMMAD HAMIM/B-5)








